Suasana haru dan canda tawa menyelimuti ruang sidang utama Mahkamah Konstitusi, Rabu (4/2/2026) lalu. Hakim Arief Hidayat resmi melepas jabatannya dalam sebuah wisuda purnabakti yang penuh kehangatan. Di antara pidatonya yang lancar, ada satu momen yang menarik perhatian. Saat menyebut nama-nama rekan hakim yang hadir, perhatiannya tertuju khusus pada seorang sahabat lama: Anwar Usman.
Hampir semua hakim konstitusi hadir menyaksikan. Suhartoyo, Saldi Isra, Enny Nurbaningsih, dan yang lainnya duduk di barisan depan. Tapi Anwar Usman disebutnya paling akhir. Bukan tanpa alasan.
"Dan yang terakhir, sahabat saya yang paling lama," ucap Arief, disambai gelak tawa hadirin. "Saya sebut terakhir soalnya, ini orang-orang tua yang sudah tidak berguna lagi di Mahkamah untuk segera memasuki usia pensiun."
Dia pun menyebut nama lengkap sahabatnya itu dengan penuh hormat. "Yang Mulia Bapak Profesor Dr Anwar Usman beserta Ibu, kalau ada, yang sangat saya hormati."
Menurut Arief, persahabatan mereka berlangsung sangat lama. Kisahnya pun berliku. Arief mengaku, dulu sama sekali tidak punya ambisi untuk menduduki posisi pimpinan di lembaga itu. Namun, nasib berkata lain.
"Kenapa Prof Anwar saya sebut terakhir? Karena ini teman lama, jadi saya paling lama bersamanya," jelasnya. "Saya teringat awal menjadi hakim konstitusi. Saya tidak bercita-cita untuk jadi pimpinan di sini."
Lalu, apa yang mengubah pikirannya?
"Waktu itu Prof Anwar dan Prof Harjono yang datang ke ruang saya," kenang Arief. Mereka mendesaknya agar bersedia dicalonkan sebagai Wakil Ketua MK.
Ajakan itu awalnya ditolak. Tapi Anwar dan Harjono, yang juga merupakan guru dan figur yang dihormatinya, terus mendesak. Berkali-kali mereka membujuk. Akhirnya, Arief luluh juga.
"Akhirnya saya iyakan karena ini amanah," ujarnya. "Dari Pak Harjono, itu guru saya waktu S2 di Unair. Kemudian juga dari ustad dari Bima yang mendorong. Akhirnya saya bersedia."
Jadilah dia pimpinan di Mahkamah Konstitusi, sebuah perjalanan yang dimulai dari sebuah ajakan di ruang kerjanya. Dan di hari perpisahannya, orang yang dulu memintanya untuk maju, duduk di depan, mendengarkan dengan seksama. Bersama-sama menyongsong masa pensiun.
Artikel Terkait
Ade Armando Pertanyakan Makna ‘Pelajaran’ dari Kasusnya Usai Mundur dari PSI
Polisi Tangkap Pimpinan Ponpes di Pati yang Jadi Buronan Kasus Pencabulan Puluhan Santriwati
BNPP Percepat Pemetaan Pembangunan Perbatasan di Tou Lumbis untuk Dorong Hilirisasi dan Tekan Ketergantungan Produk Malaysia
Hoegeng Awards 2026 Buka Uji Publik untuk 15 Kandidat Polisi Teladan