Prabowo Buka Front Baru: Perang Senyap Melawan Oligarki Lewat Moneter

- Rabu, 04 Februari 2026 | 13:25 WIB
Prabowo Buka Front Baru: Perang Senyap Melawan Oligarki Lewat Moneter
Analisis Pertemuan Prabowo

Prabowo dan Pertemuan Rahasia: Sebuah Perang Senyap Melawan Oligarki?

Pertemuan Presiden Prabowo dengan kelompok-kelompok kritis Jokowi dan sejumlah ormas Islam belakangan ini ramai dibicarakan. Tapi, benarkah ini cuma sekadar silaturahmi politik biasa? Banyak yang melewatkan intinya. Agenda yang tampak di permukaan ternyata menyimpan strategi lain, yang menyasar jantung kekuasaan sebenarnya: uang, likuiditas, dan kendali atas perbankan nasional.

Amir Hamzah, seorang pengamat intelijen dan geopolitik, melihat ini sebagai manuver tingkat tinggi. Bagi publik, mungkin terlihat seperti pertemuan biasa. Namun, ada medan pertempuran lain yang jauh lebih sunyi dan menentukan.

“Dalam negara sehebat apa pun, program sehebat apa pun, tanpa dukungan moneter yang kuat, semuanya tidak ada artinya,”

Begitu penegasan Amir saat berbincang dengan wartawan, Rabu lalu. Intinya sederhana: kekuatan oligarki selama ini bersumber dari akses mereka terhadap likuiditas dan aliran dana yang hampir tak terbatas. Bukan cuma jaringan politik.

Itulah sebabnya, menurutnya, berbagai tuntutan keras dari kelompok kritis seperti mengadili Jokowi atau memakzulkan Gibran seringkali mentah di tengah jalan. Bukan karena tuntutannya keliru, tapi karena pihak yang dituntut punya sumber daya keuangan yang luar biasa besar. “Ini realitas kekuasaan,” tegas Amir.

Ia memberi contoh kasus Riza Chalid dan red notice-nya. Proses hukum internasional yang rumit itu, katanya, justru menunjukkan betapa pengaruh dan jaringan finansial seseorang bisa tetap bekerja di balik layar.

Nah, di sinilah letak keunikan langkah Prabowo. Alih-alih konfrontasi langsung, ia justru memilih jalur yang lebih halus dan mungkin lebih mematikan: moneter dan perbankan.

Isu pergantian direksi Himbara yang diumumkan Sjafrie Sjamsoeddin beberapa waktu lalu, misalnya. Itu bukan sekadar soal rotasi jabatan. Itu adalah sinyal. Sinyal untuk memotong saluran dana. Kalau likuiditas oligarki dipersempit, kekuatan politiknya otomatis ikut melemah.

Di sisi lain, pemberitaan massif soal pertemuan ini juga bukan kebetulan. Ini bagian dari perang persepsi. Untuk menunjukkan bahwa Prabowo berada di barisan depan melawan kelompok yang dianggap merampas kedaulatan bangsa.

Pertemuan dengan ormas Islam punya dimensi lain. Hadirnya tokoh seperti Ustaz Bachtiar Nasir dan Ustaz Zaitun Rasmin, ditambah perwakilan NU dan Muhammadiyah, memberi sinyal kuat. Prabowo sedang membangun legitimasi moral dan sosial. Sebuah basis yang penting untuk menghadapi kekuatan lama yang masih bercokol.

“Prabowo sedang membangun legitimasi moral dan sosial. Ini penting untuk menghadapi kekuatan lama yang masih bercokol,”

Kelompok-kelompok yang diundang itu, dalam analisis Amir, tidak serta-merta diminta mengeksekusi tuntutan politik. Mereka lebih berperan sebagai kekuatan penyeimbang. Penyangga saat langkah-langkah pengetatan aliran dana mulai dilakukan.

Tentu saja, pengaruh Geng Solo dan oligarki lainnya masih sangat signifikan. Jejaring bisnis dan kontrol atas sumber keuangan negara mereka masih kuat. Namun begitu, Amir melihat Prabowo sedang memainkan permainan jangka menengah.

“Jokowi mempreteli kekuasaan secara halus selama ini. Prabowo membalasnya dengan cara lebih sunyi, tapi lebih mematikan: lewat moneter,” ujarnya.

Dalam perspektif intelijen, stabilitas negara sangat ditentukan oleh anggaran dan likuiditas. Siapa yang memegang kendali di sini, dialah penguasa sebenarnya.

Keterlibatan ormas Islam, karena itu, bukan sekadar simbolik. Mereka punya kekuatan akar rumput. Jika bisa digerakkan dalam kerangka negara, mereka bisa menjadi penyangga legitimasi yang kokoh. Ini berbeda dengan pendekatan era sebelumnya yang cenderung menekan peran politik Islam.

Momentum ini krusial. Figur-figur kritis seperti Said Didu dan lainnya punya peluang nyata jika bisa bersinergi dengan kebijakan moneter yang sedang disusun.

Pada akhirnya, perang sesungguhnya tidak terjadi di jalanan atau di gedung parlemen. Tapi di ruang-ruang yang sunyi: ruang rapat direksi bank, aliran dana, dan kebijakan moneter. Dan di situlah, menurut Amir Hamzah, Prabowo memilih untuk bermain.

Disarikan dari wawancara dengan pengamat intelijen dan geopolitik.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar