Nah, di sisi lain, Prabowo juga menekankan satu hal krusial. Partisipasi Indonesia nggak akan jalan sendirian. Justru, ini akan dibarengi dengan upaya konsolidasi atau penyatuan langkah dengan negara-negara Islam dan Timur Tengah lainnya yang juga ikut dalam dewan itu.
“Termasuk dengan mengikuti atau berpartisipasi di dalam inisiatif yang dibuat oleh Amerika yaitu Board of Peace ini, dengan diiringi konsolidasi di antara negara-negara Islam dan negara-negara Timur Tengah yang juga berpartisipasi,” papar Gus Yahya.
Jadi, alih-alih terisolasi, setiap kebijakan dan keputusan yang nanti lahir dari dewan itu diharapkan menjadi aksi bersama yang terkoordinasi. Semuanya mengerucut pada satu tujuan utama: membela dan membantu Palestina.
“Sehingga, hal-hal yang nanti dilakukan di dalam dewan tersebut akan menjadi langkah yang terkonsolidasi di antara negara-negara yang memang pada dasarnya dan menjadi motivasi mereka berpartisipasi di dalam dewan itu untuk membela dan membantu Palestina,” lanjutnya.
Singkatnya, langkah ini dilihat sebagai strategi pragmatis. Masuk ke dalam meja perundingan, lalu berusaha maksimal dari dalam untuk kepentingan yang lebih besar. Itu kira-kira garis besarnya.
Artikel Terkait
Kapolri dan Wamendagri Layat Eyang Meri, Istri Hoegeng yang Baru Saja Rayakan Seabad
Prabowo Pertanyakan Nasib Rumah Radio Bung Tomo, Kini Tinggal Pagar dan Kenangan
Biro Travel Bungkam, Aliran Uang ke Oknum Kemenag Masih Disembunyikan
Megawati dan Ramos Horta Duduk Berdampingan di Forum Persaudaraan Abu Dhabi