RBA Naikkan Suku Bunga, Nasib Diaspora Indonesia di Australia Dipertaruhkan

- Selasa, 03 Februari 2026 | 16:10 WIB
RBA Naikkan Suku Bunga, Nasib Diaspora Indonesia di Australia Dipertaruhkan

David Taylor dari ABC melaporkan, harga emas sempat menyentuh level fantastis di atas AU$8.000 per troy ounce pekan lalu. Tapi kemudian anjlok 17 persen akibat aksi jual panik. Nasib serupa menimpa perak, yang harganya merosot sekitar 35 persen dari puncaknya.

Banyak analis menyalahkan penunjukan Kevin Warsh oleh Presiden Donald Trump untuk memimpin Federal Reserve sebagai pemicunya. Di usia 55 tahun, Warsh dianggap tak akan memangkas suku bunga AS, yang mendorong penguatan dolar AS dan akhirnya menjatuhkan harga emas dan perak.

Tapi, benarkah menaruh uang di bank adalah pilihan terbaik sekarang? Michael Lukman punya pandangan berbeda.

“Semua tergantung apa yang menjadi goal kamu, apakah untuk jangka pendek atau jangka panjang?” ujarnya.

Menurutnya, tabungan bank bisa cocok untuk kebutuhan jangka pendek. Namun untuk tujuan seperti dana pensiun, diversifikasi investasi mutlak diperlukan. “Dalam inflasi jangka panjang, nilai uang kita selalu berkurang seiring waktu. Sementara sejarah menunjukkan investasi di aset, seperti saham dan logam mulia, akan mengungguli aset berisiko rendah seperti deposito bank,” jelas Michael.

Dampak 'Positif' dari Dolar Australia yang Kuat

Secara teori, kenaikan suku bunga bisa memperkuat mata uang. Tapi Michael mencatat, dolar Australia sudah lebih dulu menguat sebelum keputusan RBA, terutama karena melemahnya dolar AS.

“Prediksi saya, sepertinya kita tidak akan melihat penguatan yang dramatis dari mata uang Australia,” ujarnya.

Di sisi lain, bagi diaspora Indonesia, penguatan dolar Australia terhadap rupiah tentu terasa “positif”, khususnya jika mereka hendak mengirim uang ke Indonesia. Namun, efeknya tak selalu baik. Ekspor Australia ke Indonesia bisa jadi kurang kompetitif karena harganya lebih mahal. Sebaliknya, barang-barang impor dari Indonesia justru bisa lebih laku karena harganya relatif lebih murah di Australia.

Intinya, siapa yang diuntungkan dan dirugikan selalu berubah, tergantung pada dinamika suku bunga dan nilai tukar.

“Suku bunga selalu naik turun,” pungkas Michael. “Yang paling direkomendasikan adalah kembali meninjau ulang anggaran rumah tangga secara cermat dan lakukan apa yang bisa untuk bertahan.”

Gareth Hutchens juga berkontribusi dalam laporan ini.


Halaman:

Komentar