Sebagai catatan, tulisan ini murni laporan dan analisis, bukan rekomendasi keuangan pribadi. Untuk keputusan yang tepat, diskusikan dengan ahli keuangan yang memahami kondisi Anda.
Lanskap ekonomi Australia pekan ini tampak suram. Inflasi yang bandel masih menggantung di atas target, pasar saham beringsut turun, sementara harga emas dan perak justru terjun bebas. Di tengah situasi ini, langkah bank sentral pun tak mengejutkan.
Seperti yang sudah ditebak banyak pengamat, Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa (3/2) mengangkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Keputusan itu menempatkan suku bunga pada level 3,85 persen, naik dari posisi sebelumnya 3,6 persen.
Alasan utamanya jelas: meredam inflasi. Tekanan harga konsumen di Australia tercatat 3,4 persen, angka yang masih jauh di atas sasaran RBA yang nyaman di kisaran 2-3 persen. Bahkan IMF sudah mengingatkan bahwa inflasi akan tetap menjadi tantangan serius bagi perekonomian negeri kanguru ini.
Dalam pernyataannya, Dewan RBA mengakui adanya kemunduran.
Kebijakan ini menghentikan tren pemotongan suku bunga yang dilakukan RBA tiga kali sepanjang tahun lalu, dengan yang terakhir terjadi pada Agustus, ketika inflasi tampak melandai.
Lalu, Bagaimana Dampaknya Bagi Diaspora Indonesia?
Menurut Michael Lukman, seorang penasihat keuangan yang berpengalaman di Sydney dan Jakarta, dampaknya akan dirasakan oleh diaspora Indonesia sama seperti warga Australia pada umumnya. Tapi besarnya efek sangat bergantung pada posisi ekonomi masing-masing.
“Mereka yang akan merasakan dampak paling besar adalah para pemilik rumah yang cicilannya sedikit di atas persyaratan pembayaran minimum ... mereka yang berada di ambang batas,” kata Michael.
Kenaikan bunga jelas memberatkan pemilik rumah dengan cicilan berubah-ubah (variable rate). Namun begitu, para penyewa juga mungkin tak bisa bernapas lega. Michael memprediksi, kenaikan biaya bagi pemilik rumah sangat mungkin dibebankan kepada penyewa melalui kenaikan sewa.
Menabung di Bank, Jadi Lebih Menggiurkan?
Di satu sisi, suku bunga yang naik membuat produk tabungan atau deposito di bank tampak lebih menarik. Apalagi jika melihat kondisi pasar lain yang sedang kacau: saham Australia fluktuatif, sementara logam mulia ambruk setelah sempat mencetak rekor.
Artikel Terkait
Tiga Kabupaten di Aceh Masih Berstatus Tanggap Darurat Meski Fase Pemulihan Sudah Dimulai
Setelah Dengar Janji Prabowo, MUI Balik Arah Dukung Indonesia Masuk Dewan Perdamaian
Jembatan Baru di Sri Meranti: Dari Kayu Lapuk Jadi Beton Kokoh untuk 250 Keluarga
200 Kg Ganja Digagalkan di Langkat, Tiga Kurir Diamankan