Ia lalu menyebut soal 'jam kiamat' yang simbolis itu. "Waktu terus berjalan dan jelas harus dipercepat," ujarnya, merujuk pada penanda kemungkinan terjadinya bencana buatan manusia yang mampu menghancurkan dunia.
Peta perundingan jadi makin rumit. AS sempat mengusulkan agar China, kekuatan nuklir terbesar ketiga dunia, ikut serta dalam pembicaraan. Sayangnya, Beijing sama sekali tak menunjukkan minat.
Sementara itu, Trump punya pandangan sendiri. Dalam wawancara dengan New York Times bulan lalu, ia bersikap santai soal akhir New START.
"Jika berakhir, ya berakhir..." katanya. "Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik."
Kalimat itu menggantung, meninggalkan tanda tanya besar. Apakah perjanjian baru yang lebih baik benar-benar akan terwujud, atau justru dunia akan memasuki fase ketidakpastian yang lebih berbahaya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Conte: Posisi Kedua Napoli di Tengah Krisis adalah Pencapaian Luar Biasa
Remaja Cianjur Diamankan Saat Takbiran Keliling Bawa Miras Oplosan
Lapas dan Rutan di Jakarta Buka Kunjungan Keluarga Saat Lebaran
Arus Mudik Lebaran 2026 Pecahkan Rekor, 270 Ribu Kendaraan di Jalan Tol