Ia lalu menyebut soal 'jam kiamat' yang simbolis itu. "Waktu terus berjalan dan jelas harus dipercepat," ujarnya, merujuk pada penanda kemungkinan terjadinya bencana buatan manusia yang mampu menghancurkan dunia.
Peta perundingan jadi makin rumit. AS sempat mengusulkan agar China, kekuatan nuklir terbesar ketiga dunia, ikut serta dalam pembicaraan. Sayangnya, Beijing sama sekali tak menunjukkan minat.
Sementara itu, Trump punya pandangan sendiri. Dalam wawancara dengan New York Times bulan lalu, ia bersikap santai soal akhir New START.
"Jika berakhir, ya berakhir..." katanya. "Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik."
Kalimat itu menggantung, meninggalkan tanda tanya besar. Apakah perjanjian baru yang lebih baik benar-benar akan terwujud, atau justru dunia akan memasuki fase ketidakpastian yang lebih berbahaya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Ciujung Meluap, Tol Jakarta-Merak Lumpuh Akibat Banjir 10 Kilometer
Hilal Ramadan 2026 Diprediksi Baru Terlihat 18 Februari
PPATK Kebanjiran 43 Juta Laporan Transaksi Sepanjang 2025
Pensiunan ASN Minta Maaf Usai Tindakan Kekerasan pada Kucing Viral