“Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia adalah penghargaan tahunan independen dan internasional,” jelas Wakil Ketua MPR RI periode 2019-2024 itu.
“Penghargaan ini mengakui individu atau entitas di seluruh dunia yang memimpin dengan memberi contoh, berkolaborasi tanpa pamrih, dan bekerja tanpa lelah untuk menjembatani kesenjangan serta menciptakan hubungan manusia yang nyata,” tambahnya.
Penghargaan ini didedikasikan untuk mengenang Pendiri UEA, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Nilai-nilai yang dipegang teguh adalah warisannya: semangat kemanusiaan, moralitas, dan dedikasi untuk bekerja sama dengan semua orang, terlepas dari latar belakang.
Ceritanya berawal dari sebuah pertemuan bersejarah. Tanggal 4 Februari 2019, Imam Besar Al-Azhar, Prof. Ahmed Al-Tayeb, dan Paus Fransiskus bertemu. Mereka menandatangani dokumen Persaudaraan Manusia. Pertemuan itu sekaligus menandai berdirinya Zayed Award.
Karena signifikansinya, kedua pemimpin agama itu pun dinobatkan sebagai penerima pertama penghargaan ini di tahun 2019. Pertemuan mereka dianggap sebagai seruan perdamaian bagi umat manusia.
Sejak 2021, nominasinya terbuka untuk global. Siapa pun yang berupaya memperkuat ikatan manusia, mengatasi perpecahan, dan membangun komunitas tangguh, bisa diajukan.
“Inilah semangat yang dibawa Ibu Megawati,” kata Basarah, menutup penjelasannya.
“Dan inilah alasan mengapa NU dan Muhammadiyah dinilai sangat layak menerimanya pada tahun 2024 lalu.”
Artikel Terkait
Sorotan DPR: Tumpukan Sampah di Bali Harus Segera Dituntaskan
DPRD DKI Desak Penutupan Tempat Hiburan Malam di Lenteng Agung Jelang Ramadan
Petugas Satpol PP Kebumen Tewas Dibacok Saat Evakuasi Warga Gangguan Jiwa
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Pulau Saringi NTB Dini Hari