Bamsoet Dorong Pelatihan Bahasa Jepang Cetak PMI Berkualitas untuk Isi 820 Ribu Lowongan

- Rabu, 28 Januari 2026 | 08:45 WIB
Bamsoet Dorong Pelatihan Bahasa Jepang Cetak PMI Berkualitas untuk Isi 820 Ribu Lowongan

Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet, punya pesan tegas untuk PELBAJINDO. Ketua Dewan Pengawas lembaga pelatihan bahasa Jepang itu mendorong agar peran organisasinya diperkuat. Bukan sekadar mengajar bahasa, tapi lebih strategis lagi: membina para calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan berangkat ke Jepang.

Menurutnya, ini momentum yang tepat. Jepang, seperti diketahui, sedang dilanda krisis demografi serius. Angka kelahiran rendah, populasi menua. Akibatnya, dari 2024 hingga 2029, mereka butuh sekitar 820.000 tenaga kerja asing. Nah, di sinilah peluang besar bagi Indonesia.

"Di saat Jepang kekurangan tenaga kerja terampil, Indonesia justru masih menghadapi tantangan pengangguran yang relatif tinggi," ujar Bamsoet.

Ia mengutip data BPS per Agustus 2025 yang mencatat angka pengangguran terbuka di kisaran 4,85%. "Jutaan angkatan kerja baru masuk setiap tahun," tambahnya, Rabu (28/1/2026).

Maka, peran PELBAJINDO dinilai krusial. Lembaga ini didorong untuk mencetak PMI yang bukan cuma bisa bahasa, tapi juga terampil, punya integritas, dan tentu saja bersertifikasi. Tujuannya jelas: memenuhi kebutuhan kerja berkualitas di negeri Sakura itu. Bamsoet memperkirakan, Indonesia berpeluang mengisi 164.000 hingga 246.000 lowongan di sektor-sektor seperti perawat lansia, pertanian, sampai konstruksi dan perhotelan.

Hal ini disampaikannya dalam Deklarasi PELBAJINDO di Parle Senayan, Jakarta, sehari sebelumnya.

"Di sinilah peran strategis PELBAJINDO, melalui pelatihan yang berkualitas dan sertifikasi yang kredibel menjadi kunci agar PMI Indonesia mampu bersaing dan dipercaya," tegas politisi Golkar itu.

Dorongan Bamsoet ini sejalan dengan arah pemerintahan baru. Ia melihat kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan peningkatan SDM sebagai fondasi utama. Indonesia, dengan bonus demografi dan tenaga kerja produktif yang melimpah, dipandang sebagai mitra strategis Jepang.

Faktanya, hingga akhir 2024, sekitar 190 ribu lebih PMI tercatat bekerja di Jepang. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemasok tenaga kerja terbesar di sana. Sepanjang tahun lalu saja, pemerintah mencatat hampir 300 ribu PMI dikirim ke berbagai negara, dengan Jepang sebagai tujuan utama.

Dampak ekonominya nyata.

"Sepanjang tahun 2024 remitansi PMI tercatat melampaui Rp 250 triliun. Menjadikannya salah satu penopang penting ekonomi nasional di tengah tekanan global," kata Bamsoet.


Halaman:

Komentar