Pasar saham Indonesia diguncang hebat hari ini, Rabu (28 Januari. IHSG terperosok hampir 8 persen, sebuah penurunan yang cukup mengejutkan. Pemicunya? Pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal perubahan cara mereka menilai free float saham di sini. Pasar jelas merespons dengan sangat negatif.
Pantauan di tengah sesi pertama menunjukkan situasi yang suram. IHSG anjlok 7,66 persen, atau sekitar 687 poin, ke level 8.292,73. Tekanan jual terjadi di mana-mana. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, mayoritas berwarna merah tepatnya 765 saham melemah. Hanya segelintir, 26 saham, yang mampu bertahan di zona hijau. Transaksi pun cukup ramai, dengan nilai mencapai Rp 26,87 triliun.
Lalu, siapa sebenarnya MSCI ini?
Bagi kalangan investor global, nama MSCI bukan hal asing. Mereka adalah penyedia indeks terkemuka yang jadi patokan utama para investor institusi besar dunia. Reksa dana global, dana pensiun raksasa, hingga ETF banyak yang mengikuti arahan indeks mereka. Tak berlebihan jika keputusan MSCI bisa mengubah aliran dana miliaran dolar, sekaligus menentukan bagaimana sebuah pasar diklasifikasikan, apakah sebagai pasar maju atau pasar berkembang.
Nah, keputusan mereka kali inilah yang membuat IHSG limbung.
Intinya, MSCI membekukan sementara proses rebalancing indeks untuk Indonesia. Mereka menunggu jaminan dari otoritas terkait soal mekanisme free float di Tanah Air. Keputusan ini langsung berlaku dan berdampak luas. Akibatnya, sejak bel dibuka, tekanan jual langsung membanjiri pasar. IHSG sempat terpangkas 7 persen di awal perdagangan.
Yang paling terpukul adalah saham-saham dari grup konglomerat besar. Saham milik Keluarga Bakrie, misalnya, ambles dalam-dalam. BUMI merosot 14,53 persen, sementara DEWA turun 13,43 persen.
Di sisi lain, saham PANI dari kelompok Salim dan Agung Sedayu juga tak kalah terpuruk, terpangkas 14,89 persen.
Grup Prajogo Pangestu pun mengalami nasib serupa. BRPT, CUAN, PTRO, dan BREN, semuanya tercatat melemah lebih dari 10 persen. Bahkan, saham seperti EMAS sempat terjun bebas sebelum akhirnya mencoba bangkit lagi.
Meski begitu, tidak semua saham konglomerat terjerembab sama dalamnya. Ada beberapa yang masih bertahan relatif lebih baik. Saham BYAN milik Low Tuck Kwong, contohnya, hanya turun tipis 0,60 persen. Begitu pula dengan saham ADRO dan AADI dari kelompok Boy Thohir, yang masing-masing terkoreksi di kisaran 2,5 persen.
Hari ini, sentimen benar-benar menguasai pasar. Keputusan MSCI telah menciptakan gelombang ketidakpastian yang besar, dan investor lokal maupun asing tampaknya memilih untuk mengurangi eksposur mereka terlebih dahulu sambil menunggu kejelasan lebih lanjut.
Artikel Terkait
Penerima PKH dan Bantuan Sembako Akan Dilebur ke Koperasi Desa Merah Putih
Emas Anjlok ke Terendah Sebulan, Kekhawatiran Inflasi dan Ketegangan Iran-Timur Tengah Kembali Meningkat
UEA Resmi Keluar dari OPEC, Fokus pada Kepentingan Nasional
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Kinerja OpenAI Tekan Saham Teknologi Jelang Rilis Laba Raksasa AS