"Istri saya cuma pesan begini, Pak, kalau main golf, apa? Jangan lihat papa caddy ya. Nanti bahaya katanya,"
Ahok menirukan ucapan Riva sambil tertawa. "Itu saja, Pak, kita joke-nya."
"Banyak yang Bisa Ditangkap Kalau Mau"
Ahok juga menyentuh soal sistem pengadaan di Pertamina. Dia mengkritik sistem lama yang menurutnya membuat cadangan minyak Indonesia sangat tipis, kurang dari 30 hari. Padahal, dalam UU Migas, seharusnya yang menjamin keamanan cadangan itu adalah pemerintah.
"Tapi karena pemegang saham adalah pemerintah, Pertamina ditugaskan... lu rugilah kira-kira gitu loh," imbuhnya dengan logika khasnya.
Solusi yang dia usulkan waktu itu adalah sistem supplier hire stock lewat e-katalog LKPP. Dia pengin LKPP punya halaman khusus untuk pengadaan Pertamina, mirip seperti yang sukses dia terapkan saat memimpin DKI. Sayangnya, sistem itu berubah setelah dia lengser.
"Semua diubah," ucapnya singkat.
Yang lebih menohok, Ahok menyoroti temuan audit BPK atau BPKP yang sering hanya berujung pada istilah "kelebihan bayar". Dia seolah memberi sinyal bahwa sebenarnya masih banyak yang bisa digarap jika penegak hukum serius.
"Makanya saya juga bilang sama Pak Jaksa kalau mau periksa di Indonesia kasih tahu saya, saya bisa kasih tahu Pak, banyak bisa ditangkepin Pak, kalau Bapak mau."
Kalimat itu menggantung di ruang sidang, meninggalkan kesan yang dalam. Seperti biasa, Ahok tidak sekedar memberi kesaksian, tapi juga melemparkan pertanyaan tersirat tentang banyak hal di luar persidangan itu sendiri.
Artikel Terkait
Tim DVI Berhasil Identifikasi 34 Korban Longsor Cisarua
Tragis di Perlintasan Kebumen, Truk Tergulung KA Gejayana
Polda Metro Jaya Gelar Operasi Pekat Jaya 2026, Amankan Ibu Kota Jelang Ramadhan
Jakarta Siagakan Ribuan Personel Amankan Aksi Buruh