Ahok Bongkar Lapangan Golf Sebagai Kantor Negosiasi di Sidang Korupsi Pertamina

- Rabu, 28 Januari 2026 | 07:35 WIB
Ahok Bongkar Lapangan Golf Sebagai Kantor Negosiasi di Sidang Korupsi Pertamina

Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa lalu, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab disapa Ahok hadir sebagai saksi. Kasusnya besar: dugaan korupsi tata kelola minyak mentah yang disebut-sebut bikin negara rugi ratusan triliun rupiah. Dan seperti biasa, gaya bicaranya blak-blakan.

Menurut dakwaan, kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 285 triliun. Pokok persoalannya berkisar pada dua hal: impor produk kilang atau BBM, plus penjualan solar nonsubsidi. Sidang hari itu sendiri memeriksa sembilan terdakwa, di mana Ahok datang untuk memberi kesaksian.

Dia dulu menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina di era pemerintahan Jokowi. Sementara yang duduk di kursi terdakwa adalah sejumlah mantan petinggi Pertamina dan pihak terkait, yaitu Riva Siahaan, Sani Dinar Saifuddin, Maya Kusmaya, Edward Corne, Yoki Firnandi, Agus Purwono, Muhamad Kerry Adrianto Riza, Dimas Werhaspati, dan Gading Ramadhan Joedo.

Nah, dari kesaksiannya yang panjang, ada beberapa poin yang menarik perhatian.

Lapangan Golf: Arena Negosiasi "Paling Murah"

Jaksa sempat menyinggung soal kebiasaan para direksi bertemu pihak lain sambil main golf. Ahok langsung ceplas-ceplos mengaku dulu paling benci aktivitas itu. Bahkan, saat masih jadi Gubernur DKI, dia melarang jajarannya main golf karena dianggap menyita waktu kerja.

"Saya melarang semua orang pemda, tidak boleh main golf karena kita kerja terlalu banyak," ujarnya.

Tapi ternyata, dunia minyak berbeda. Menurut Ahok, semua orang di sektor ini main golf. Dari eksekutif Chevron sampai Exxon, ajakan main golf selalu ada. Alhasil, dia merasa harus ikut belajar.

"Saya terpaksa pergi sekolah golf supaya bisa menemani mereka," katanya.

Di sisi lain, Ahok justru memandang golf sebagai tempat negosiasi yang efektif. "Jauh lebih murah daripada nightclub," ujarnya. Dia bilang, berjemur sambil jalan-jalan di lapangan hijau itu biayanya tak seberapa. Bahkan dia sampai menghafal nasihat ringan dari salah satu terdakwa, Riva Siahaan.

"Istri saya cuma pesan begini, Pak, kalau main golf, apa? Jangan lihat papa caddy ya. Nanti bahaya katanya,"

Ahok menirukan ucapan Riva sambil tertawa. "Itu saja, Pak, kita joke-nya."

"Banyak yang Bisa Ditangkap Kalau Mau"

Ahok juga menyentuh soal sistem pengadaan di Pertamina. Dia mengkritik sistem lama yang menurutnya membuat cadangan minyak Indonesia sangat tipis, kurang dari 30 hari. Padahal, dalam UU Migas, seharusnya yang menjamin keamanan cadangan itu adalah pemerintah.

"Tapi karena pemegang saham adalah pemerintah, Pertamina ditugaskan... lu rugilah kira-kira gitu loh," imbuhnya dengan logika khasnya.

Solusi yang dia usulkan waktu itu adalah sistem supplier hire stock lewat e-katalog LKPP. Dia pengin LKPP punya halaman khusus untuk pengadaan Pertamina, mirip seperti yang sukses dia terapkan saat memimpin DKI. Sayangnya, sistem itu berubah setelah dia lengser.

"Semua diubah," ucapnya singkat.

Yang lebih menohok, Ahok menyoroti temuan audit BPK atau BPKP yang sering hanya berujung pada istilah "kelebihan bayar". Dia seolah memberi sinyal bahwa sebenarnya masih banyak yang bisa digarap jika penegak hukum serius.

"Makanya saya juga bilang sama Pak Jaksa kalau mau periksa di Indonesia kasih tahu saya, saya bisa kasih tahu Pak, banyak bisa ditangkepin Pak, kalau Bapak mau."

Kalimat itu menggantung di ruang sidang, meninggalkan kesan yang dalam. Seperti biasa, Ahok tidak sekedar memberi kesaksian, tapi juga melemparkan pertanyaan tersirat tentang banyak hal di luar persidangan itu sendiri.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar