Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa lalu, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab disapa Ahok hadir sebagai saksi. Kasusnya besar: dugaan korupsi tata kelola minyak mentah yang disebut-sebut bikin negara rugi ratusan triliun rupiah. Dan seperti biasa, gaya bicaranya blak-blakan.
Menurut dakwaan, kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 285 triliun. Pokok persoalannya berkisar pada dua hal: impor produk kilang atau BBM, plus penjualan solar nonsubsidi. Sidang hari itu sendiri memeriksa sembilan terdakwa, di mana Ahok datang untuk memberi kesaksian.
Dia dulu menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina di era pemerintahan Jokowi. Sementara yang duduk di kursi terdakwa adalah sejumlah mantan petinggi Pertamina dan pihak terkait, yaitu Riva Siahaan, Sani Dinar Saifuddin, Maya Kusmaya, Edward Corne, Yoki Firnandi, Agus Purwono, Muhamad Kerry Adrianto Riza, Dimas Werhaspati, dan Gading Ramadhan Joedo.
Nah, dari kesaksiannya yang panjang, ada beberapa poin yang menarik perhatian.
Lapangan Golf: Arena Negosiasi "Paling Murah"
Jaksa sempat menyinggung soal kebiasaan para direksi bertemu pihak lain sambil main golf. Ahok langsung ceplas-ceplos mengaku dulu paling benci aktivitas itu. Bahkan, saat masih jadi Gubernur DKI, dia melarang jajarannya main golf karena dianggap menyita waktu kerja.
"Saya melarang semua orang pemda, tidak boleh main golf karena kita kerja terlalu banyak," ujarnya.
Tapi ternyata, dunia minyak berbeda. Menurut Ahok, semua orang di sektor ini main golf. Dari eksekutif Chevron sampai Exxon, ajakan main golf selalu ada. Alhasil, dia merasa harus ikut belajar.
"Saya terpaksa pergi sekolah golf supaya bisa menemani mereka," katanya.
Di sisi lain, Ahok justru memandang golf sebagai tempat negosiasi yang efektif. "Jauh lebih murah daripada nightclub," ujarnya. Dia bilang, berjemur sambil jalan-jalan di lapangan hijau itu biayanya tak seberapa. Bahkan dia sampai menghafal nasihat ringan dari salah satu terdakwa, Riva Siahaan.
Artikel Terkait
Warga Pesisir Jakarta Siaga, Rob Diprediksi Melanda Awal Februari 2026
Bamsoet Dorong Pelatihan Bahasa Jepang Cetak PMI Berkualitas untuk Isi 820 Ribu Lowongan
Jokowi Effect dan Kharisma Mad Ali Jadi Magnet Kader NasDem Hijrah ke PSI
KPK Naikkan Batas Laporan Gratifikasi, Aturan Pisah Sambut Dihapus