Gejolak Global dan Momentum Indonesia Menuju Kekuatan Ekonomi Mandiri

- Minggu, 15 Maret 2026 | 21:50 WIB
Gejolak Global dan Momentum Indonesia Menuju Kekuatan Ekonomi Mandiri

Dunia saat ini terasa seperti sedang menahan napas. Ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah dengan konflik Israel-Iran yang memanas, benar-benar mengancam keseimbangan global. Bukan cuma soal pasokan energi yang bisa tersendat, tapi juga jalur perdagangan internasional yang jadi taruhannya. Stabilitas ekonomi dunia pun ikut goyah. Dalam situasi serapuh ini, kekuatan sebuah negara tak lagi cuma diukur dari kekayaan alamnya semata. Yang lebih penting adalah kemampuannya untuk memproduksi secara mandiri dan punya daya saing di panggung perdagangan internasional.

Nah, di tengah ketidakpastian ini, Indonesia justru punya peluang emas. Posisinya di kawasan Indo-Pasifik sangat strategis untuk melesat menjadi kekuatan ekonomi utama. Tapi, mimpi besar itu nggak akan terwujud kalau kita cuma ngandelin ekspor bahan mentah terus-terusan. Percepatan transformasi menuju produsen barang bernilai tambah tinggi itu mutlak. Tak bisa ditawar lagi.

Menariknya, gagasan yang digulirkan almarhum Prof. Soemitro Djojohadikusumo puluhan tahun lalu, tiba-tiba terasa sangat relevan. Konsep "Indonesia Incorporated"-nya itu, tentang bagaimana negara harus menyatukan kekuatan produksi nasional, pasar dalam negeri, dan ekspansi ke luar negeri, seakan menemukan momentumnya kembali di era yang penuh gejolak ini.

Sebenarnya, Kita Punya Modal yang Luar Biasa

Coba lihat, kombinasi kekuatan Indonesia itu langka. Di satu sisi, kita punya cadangan mineral strategis dunia seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah. Di sisi lain, kekuatan agrikultur tropis kita sawit, kakao, kopi, rempah juga tak kalah hebat. Belum lagi potensi kelautan terbesar di dunia dan pasar domestik dengan lebih dari 280 juta jiwa. Bayangkan jika semua itu dikelola dengan serius melalui industrialisasi nasional. Bukan mustahil Indonesia bakal jadi pusat produksi strategis di kawasan ini.

Lalu, Langkah Nyatanya Apa?

Pertama, soal industrialisasi mineral strategis. Hilirisasi nikel, bauksit, dan tembaga harus digenjot. Kita bukan cuma mau jual bahan baku, tapi harus jadi basis industri energi masa depan, mulai dari baterai kendaraan listrik hingga komponen elektronik.

Kedua, pasar dalam negeri kita sendiri masih terfragmentasi. Karena itu, integrasi logistik nasional lewat Tol Laut dan pengembangan pelabuhan hub jadi kunci. Biaya logistik harus ditekan. Pasar domestik yang menyatu dan efisien adalah fondasi terkuat untuk industrialisasi.

Ketiga, jangan lupakan hilirisasi agrikultur dan kelautan. Sawit jangan berhenti di CPO, tapi dikembangkan jadi oleokimia dan biofuel. Rumput laut dan hasil perikanan kita punya nilai jual tinggi di industri farmasi dan pangan global. Potensi untuk jadi kekuatan pangan tropis dunia terbuka lebar.

Keempat, ketahanan energi. Ketergantungan pada impor itu risiko besar, apalagi dengan situasi geopolitik yang tak menentu. Pengembangan biofuel sawit, panas bumi, dan cadangan energi strategis adalah langkah penting untuk mandiri.

Dan yang kelima, diplomasi ekonomi global harus agresif. Pasar ekspor industri nasional kita perlu diperluas, tidak hanya ke negara tradisional. Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah adalah pasar baru yang potensial dan perlu dibuka melalui diplomasi perdagangan yang cerdas.

Pada Akhirnya

Semua prasyarat untuk jadi raksasa ekonomi sebenarnya sudah kita pegang: sumber daya alam melimpah, pasar domestik yang luas, dan posisi geopolitik yang strategis. Tinggal bagaimana kita mengintegrasikannya dalam satu strategi besar, mirip semangat "Indonesia Incorporated" tadi.

Dengan cara itu, kita bisa membangun ekonomi yang mandiri, tangguh menghadapi badai krisis global, dan tetap kompetitif. Transformasi ini bukan sekadar pilihan kebijakan biasa. Ini adalah sebuah keharusan strategis untuk menentukan masa depan Indonesia.

AM Hendropriyono.
Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1996-1998).

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar