Karena itu, pemutakhiran data ini jadi tugas bersama antara pusat dan daerah. Perubahan data, mau tak mau, berdampak langsung pada pola penerimaan bansos. Tidak ada lagi keluarga yang otomatis terima bantuan terus-menerus sepanjang tahun. Penyaluran kini dilakukan bertahap per triwulan, berdasarkan data terbaru.
Gus Ipul menegaskan, bansos bukan untuk 'dininabobokan'.
"Bansos itu sifatnya sementara," ucapnya. "Tujuan akhirnya adalah agar penerima manfaat bisa berdaya dan mandiri, tidak terus menerus bergantung pada bansos."
Selain soal bansos, pertemuan ini juga menyoroti peran dinas sosial dalam melayani 12 Pemerlu Atensi Sosial (PAS). Gus Ipul mendorong setiap daerah punya fasilitas layanan dasar, seperti rumah singgah, sebagai bagian dari standar pelayanan minimal.
Pembahasan lain yang mengemuka adalah program Sekolah Rakyat di Kalimantan Selatan. Dibahas progres pembangunannya, juga kesiapan lahan di sejumlah wilayah. Gus Ipul menegaskan, penentuan siswanya harus melalui mekanisme ketat berbasis data, ditetapkan oleh kepala daerah tanpa titipan.
"Kita harus gandeng tangan," pungkasnya. "Kementerian Sosial tidak akan meninggalkan daerah. Semua program ini hanya bisa berjalan kalau pusat dan daerah bergerak bersama."
Audiensi ini sendiri dihadiri sejumlah pejabat eselon di Kemensos, seperti Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, serta seluruh Kepala Dinas Sosial dari provinsi hingga kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan.
Artikel Terkait
Mantan Stafsus Nadiem Ungkap Gaji Rp 50 Juta di Sidang Korupsi Chromebook
KPK Dalami Aliran Dana ke Anggota DPRD Bekasi dari Bupati dan Swasta
Prabowo Pacu Realisasi 10 Kampus Baru Hasil Kolaborasi dengan Inggris
Gus Ipul Beberkan Anggaran Rp 2 Triliun untuk Tangani Bencana di Sumatera