Malam itu, di Kampung Pasir Kuning, Cisarua, sunyi pegunungan tiba-tiba pecah. Bagi Abah Ade, suara gemuruh yang memekakkan telinga itu bukan sekadar dentuman. Itu adalah awal dari sebuah trauma yang dalam, sebuah peristiwa yang menyapu bersih suara-suara minta tolong yang sempat ia dengar, lalu lenyap begitu saja bersama amukan tanah dan air.
Sebelumnya, hujan yang turun sejak siang hanya terasa syahdu. Tak ada firasat buruk. Minggu malam tanggal 25 Januari 2026 itu, bagi Abah yang berusia 60 tahun, seharusnya sama seperti malam-malam sebelumnya di Bandung Barat. Tapi ternyata, malam itu menjadi batas. Sebuah garis pemisah yang brutal antara kehidupan puluhan tahun yang ia jalani dengan kenyataan pahit yang datang tanpa permisi.
Ia terbangun karena rumahnya berguncang hebat. Gelap makin pekat, tapi suaranya jelas: gemuruh keras yang ia gambarkan seperti helikopter atau pesawat besar melintas terlalu rendah, hampir menyentuh atap rumah.
“Suaranya besar sekali kayak gemuruh helikopter atau pesawat ada di atas rumah. Saya lihat langsung air turun dari atas,”
Artikel Terkait
Saya Lebih Baik Jadi Petani! – Kapolri Tolak Keras Wacana Polri Dibawah Kementerian
Hujan Deras Hentikan Pencarian, Korban Longsor Pasirlangu Bertambah Jadi 29 Jiwa
Adies Kadir Resmi Mundur dari Golkar Usai Lolos ke Mahkamah Konstitusi
Panglima TNI Minta Maaf, Dua Polisi Gugur Tertabrak Truk Militer Saat Tangani Longsor