kenang Abah Ade, seperti dilaporkan Antara, Senin (26/1).
Nalurinya langsung bekerja. Sebagai Ketua RT 05 di kampung itu, rasa tanggung jawabnya mengalahkan segala rasa takut. Ia segera keluar, dan pemandangan yang menyambutnya membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak. Dari arah perbukitan, air bah yang hitam pekat bercampur lumpur meluncur deras. Bukan cuma air, tapi juga membawa kayu, tanah, dan serpihan bangunan. Semua berlangsung cepat sekali, nyaris tak memberi waktu untuk berpikir, apalagi menyelamatkan barang-barang.
Dalam gelap dan hujan yang masih deras, Abah Ade berlari. Arus terus meninggi, menyapu jalan yang ia lalui. Ia berusaha menuju rumah-rumah warga, tapi segalanya terasa tak berdaya.
Di sisi lain, teriakan minta tolong masih sempat terdengar bersahutan dari beberapa titik. Suara itu memilukan, menusuk-nusuk hati di tengah riuh bencana. Namun begitu, derasnya arus dan gelapnya malam membuat setiap upaya penyelamatan terasa seperti pertaruhan nyawa. Kampung yang ia kenal itu perlahan-lahan terkikis, hilang ditelan lumpur di depan matanya sendiri.
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing