“Anak-anak terlibat dalam perawatan dan produksi 24 jam, termasuk breeding ayam dan penanganan hasil panen,” ungkapnya.
“Mereka jadi terbiasa dengan standar dunia usaha. Apalagi dengan adanya kemitraan korporasi, produk sekolah pun sesuai standar profesional. Ini bekal praktis yang sangat berharga,” sambung Khofifah.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai mengakui partisipasi sekolah memang luar biasa. Dari total sekitar 4.300 sekolah di Jatim, sudah 754 yang bergabung. Memang, tantangan lahan sempit kerap menghadang. Tapi hal itu disiasati dengan kreatif, misalnya lewat sistem hidroponik di lahan minimalis. Jenis tanamannya pun disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.
Aries menambahkan, di SMK, program ini selaras dengan pembelajaran marketing dan produksi. Sementara di sekolah umum, hasil kebun sekolah bisa dibeli oleh guru dan siswa sendiri.
“Tercipta ekosistem saling mendukung antar sekolah,” tutupnya.
Jadi, gerakan serentak ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol komitmen kolektif untuk membangun ekosistem pendidikan yang inovatif, sekaligus menjawab tantangan pangan masa depan dengan cara yang paling nyata: belajar dari tanah.
Artikel Terkait
Adang Daradjatun Soroti Kultur Polri, Dukung Penuh Posisi di Bawah Presiden
Malam yang Menelan Pasir Kuning: Gemuruh di Atap dan Jerit yang Hilang
Razia Dini Hari di Pesisir Rohil: 4 Kg Sabu dan Ribuan Pil Ekstasi Digagalkan
Budi Doremi Keluhkan Jalan Rusak di Sitauan, PUPR Serang Janji Perbaikan Tahun Ini