Kabar pengeroyokan ini cepat menyebar dan memicu amarah warga. Esok harinya, Jumat, massa yang digerakkan aliansi masyarakat adat bergerak menuju Markas Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Mako Lanal) Melonguane. Aksi mereka spontan, tapi berujung ricuh.
"Saya juga kaget karena tiba-tiba sudah ada gelombang massa. Di sana kami ingin meminta keadilan," sebut Godfried.
Massa berusaha memaksa masuk. Mereka saling dorong dengan prajurit yang berjaga. Akibatnya, sejumlah fasilitas seperti pagar dan kanopi kantor mengalami kerusakan. "Itu kegiatan spontan warga sampai ricuh," paparnya.
Di sisi lain, pihak TNI AL telah mengambil langkah tegas. Dankodaeral VIII, Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, mengakui insiden itu. Ia menyebut pengeroyokan dipicu kesalahpahaman yang berakibat luka-luka pada korban.
"Benar telah terjadi kesalahpahaman yang melibatkan lima oknum anggota TNI AL dari Lanal Melonguane dengan salah satu warga setempat," ucap Dery dalam keterangan resminya.
Kelima oknum tersebut kini telah ditahan, menunggu proses hukum lebih lanjut. Insiden ini menyisakan ketegangan sekaligus harapan agar keadilan benar-benar ditegakkan.
Artikel Terkait
Prasetyo Buka Suara soal Nasib Ribuan Pekerja Pasca-Pencabutan Izin 28 Perusahaan
Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin Dilaporkan ke Polda Metro Terkait Pernyataan di Media
Polri Beralih dari Menghadapi ke Melayani dalam Mengawal Demo
Gempa Magnitudo 2,7 Guncang Bekasi Pagi Ini, Getaran Terasa hingga Cikarang