Indonesia Mendekati Target, Kokoh di Peringkat Kedua ASEAN Para Games 2025

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 14:20 WIB
Indonesia Mendekati Target, Kokoh di Peringkat Kedua ASEAN Para Games 2025

Kontingen Indonesia terus mengukir prestasi gemilang di ASEAN Para Games 2025 Thailand. Hingga Jumat malam, mereka sudah mengumpulkan 69 medali emas. Angka itu mendekati target keseluruhan, padahal laga masih berlanjut hingga hari terakhir.

Dari rekap medali per Jumat (23/1) pukul 23.00 WIB, selain 69 emas, Indonesia juga mengoleksi 75 perak dan 69 perunggu. Cuma selisih 13 emas dari target awal. Performa hari ketiga benar-benar spektakuler, dengan tambahan 28 emas sekaligus.

Penyumbang terbesar tentu saja para atletik. Cabang ini sudah meraih 27 emas, melampaui target 25. Tapi bukan cuma mereka. Renang pun luar biasa, mengantongi 15 emas hampir dua kali lipat dari target delapan emas. Tak ketinggalan, boccia dan judo juga sudah memenuhi target masing-masing di ajang ini.

Dengan torehan 69 emas, 75 perak, dan 69 perunggu, posisi Indonesia di peringkat kedua klasemen sementara terlihat kokoh. Di atasnya, tuan rumah Thailand masih memimpin dengan 109 emas.

Kompetitor terdekat untuk posisi runner-up, Malaysia, masih tertinggal cukup jauh dengan 33 emas. Disusul Filipina dan Vietnam di belakangnya.

Chef de Mission Indonesia, Reda Manthovani, tak menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, target finis sebagai runner-up sangat mungkin tercapai. Apalagi masih ada cabang-cabang andalan yang belum bertanding.

"Kalau melihat selisih medali yang lumayan jauh, saya yakin (target runner up terpenuhi). Apalagi cabor unggulan kita masih banyak yang belum dimainkan, seperti bulu tangkis dan catur. Lalu, boccia dan tenis meja juga masih ada. Deposito kita masih banyak," ujar Reda, Sabtu (24/1/2026).

Meski optimis, Reda berharap selisih perolehan dengan Thailand tidak terlalu lebar. "Insya Allah tetap bertahan di peringkat kedua dan kita upayakan selisih medalinya tidak terlalu jauh," tambahnya.

Di sisi lain, ada cerita menarik dari cabang boccia. Di hari ketiga, mereka sukses menyumbang emas dan menciptakan momen spesial: final semua Indonesia di kelas BC2 putri.

Pertarungan itu mempertemukan sang senior, Gischa Zayana jebolan Paralimpiade 2024 dengan junior berbakat, Intan Cahaya Putri yang baru berusia 15 tahun. Pertandingan berlangsung sengit, tapi akhirnya dimenangi Gischa dengan skor tipis 4-3.

Koordinator pelatih boccia, Islahuzzaman Nur Yadin, sangat mengapresiasi Intan. Masa depannya cerah.

"Usianya baru 15 tahun, makanya programnya masih panjang. Kemarin saat di Dubai (Asian Youth Para Games 2025), dia dapat medali emas. Kita menargetkan Intan bisa ikut mendampingi Gischa untuk lolos ke Paralimpiade (2028)," kata Islah, sapaan akrabnya.

Meski puas dengan dua emas yang sudah diraih, tim boccia masih ingin lebih. "Kita masih berusaha untuk meraih yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan besok, di nomor team dan pairs, bisa nambah. Mudah-mudahan bisa final lagi," harap Islah.

Suasana haru juga terlihat dari peraih emas lainnya, Handayani. Di kelas BC1 perorangan putri, ia harus berjuang mati-matian melawan atlet Malaysia, Angeline Melissa Lawas.

"Pertandingan yang sangat luar biasa karena kita berdua pasti sama-sama menginginkan medali emas. Alhamdulillah saya bisa membalikkan skor, sampai harus tie break, extra time, untuk akhirnya bisa mendapatkan emas," jelas Handayani.

Medali ini ia persembahkan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Tapi, perjalanannya belum berakhir. "Target berikutnya ASIAN Para Games 2026. Insya Allah ke Nagoya. Semoga bisa podium, bisa medali," ungkapnya penuh semangat.

Semangat seperti inilah yang membuat kontingen kita tak pernah berhenti berjuang. Satu per satu medali datang, membawa Indonesia semakin dekat dengan target.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar