"Tujuannya cuma mengurangi intensitasnya. Yang seharusnya hujan ekstrem, diturunkan jadi hujan lebat. Yang lebat, jadi hujan sedang saja," imbuh Muhari.
Soal teknis, selama sepuluh hari itu mereka sudah menyemai garam sebanyak 32.000 kilogram. Angka yang tidak kecil. Rata-rata, dalam sehari dibutuhkan tiga kali sorti penerbangan untuk membawa bahan semai itu.
"Satu sorti biasanya membawa 1 sampai 1,5 ton garam. Jadi ya, sehari bisa tiga kali penerbangan," ucapnya.
Muhari juga membeberkan strategi teknisnya. Intinya, mereka berusaha 'menghadang' awan-awan cumolonimbus yang bergerak dari Banten menuju Jakarta. Namun, dia menekankan bahwa persoalan banjir di Ibu Kota bukan cuma soal hujan dari langit.
"Kalau bicara banjir di Jakarta, itu bukan hanya masalah hujan," tuturnya.
"Drainase primer, sekunder, sampai yang tersier di Jakarta memang sudah harus direvitalisasi. Itu masalah yang juga mendesak," pungkas Muhari.
Artikel Terkait
Kapolri Goyang Pucuk Pimpinan, Sejumlah Kapolda Berganti Wajah
97 Negara Bisa Langsung Masuk Indonesia, Cukup Urus Visa di Bandara
Domino Mutasi Polri: Kapolda Sumsel hingga Kadiv Humas Berganti Wajah
Warga Petogogan Bersihkan Sisa Banjir, Genangan Terakhir Bertahan di Pulo Raya