Di tengah hiruk-pikuk diskusi geopolitik di Davos, Presiden Prabowo Subianto justru membawa pesan yang berbeda. Ia menegaskan, jalan menuju perdamaian dunia harus dimulai dari rumah sendiri: dengan membangun kesejahteraan rakyat yang adil. Caranya? Lewat pemerintahan bersih, ekonomi yang terbuka, dan tentu saja, peran aktif di panggung global.
Pidato kuncinya di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 itu disampaikan Kamis lalu. Gagasan itu langsung mendapat sorotan.
Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, melihat pidato tersebut membawa relevansi yang kuat. Baginya, inti dari pesan itu konsisten dengan prinsip "no one is left behind" – tidak ada seorang pun yang boleh tertinggal dalam pembangunan.
"Ketika pemimpin dunia bicara tentang dinamika geopolitik dan potensi konflik yang meluas, Presiden Prabowo justru menyadarkan bahwa perdamaian justru lahir dari kemakmuran dan keadilan," ujar Eddy, Sabtu (24/1).
"Semuanya dimulai dengan hadirnya negara untuk memenuhi kebutuhan rakyat."
Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa komitmen "no one is left behind" itu bukan sekadar slogan. Itu adalah janji agar seluruh lapisan masyarakat merasakan dampak kemajuan ekonomi.
Gagasan yang kerap disebut Prabowonomics ini, menurutnya, relevan bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk upaya mewujudkan keadilan global.
Artikel Terkait
Februari 2026 Siapkan Libur Panjang Empat Hari untuk Imlek
Tanggul Kali Angke Ditambal, Genangan di Pinang Griya Akhirnya Surut
Trump Sebut Pasukan Inggris Di Belakang, London Murka
Tito Karnavian Tinjau Langsung Pemulihan Pasca-Bencana di Aceh Tamiang