BNN dan Singapura Perkuat Kerja Sama, Kejar Aset Narkoba
Rabu lalu, Komjen Suyudi Ario Seto dari BNN RI duduk bersama pimpinan Central Narcotics Bureau (CNB) Singapura. Pertemuan itu bukan sekadar formalitas. Agenda utamanya jelas: membahas strategi baru untuk melacak dan menyita aset hasil kejahatan narkotika, khususnya yang berkaitan dengan pencucian uang.
Menurut sejumlah saksi, pertemuan dengan Direktur CNB Sebastian Tan beserta jajarannya berlangsung cukup intens. Fokusnya pada satu pola yang kerap dipakai sindikat: menyembunyikan uang haram di sistem keuangan luar negeri. Untuk itu, Suyudi langsung mengusulkan penguatan pertukaran informasi intelijen. Tujuannya sederhana tapi sulit: mempersempit ruang gerak mereka.
"Kejahatan narkotika tidak bisa diputus hanya dengan menangkap pelaku di lapangan," tegas Suyudi.
"Yang jauh lebih menentukan adalah memutus aliran uangnya. Karena itu, kerja sama pelacakan aset dan pertukaran intelijen keuangan menjadi kunci dalam melumpuhkan jaringan narkotika lintas negara."
Di sisi lain, pihak Singapura tak cuma mengangguk. Mereka mendorong kolaborasi yang lebih nyata, lebih operasional. Misalnya dengan pelaksanaan operasi bersama untuk menangani bandar yang diduga memindahkan asetnya ke Singapura. Mereka juga mengaku sering menghadapi kendala.
Tantangan terbesar, kata mereka, adalah ketika tindak pidana awalnya terjadi di negara lain. Situasi seperti ini bikin penelusuran dana jadi rumit, apalagi tanpa dukungan konkret dari negara asal pelaku. Makanya, CNB menekankan betapa pentingnya kolaborasi aktif dari Indonesia, terutama dalam hal pembuktian dan pelacakan aliran dana yang melintasi batas negara. Mereka bahkan mengajak BNN untuk kerja sama peningkatan kapasitas, lewat pelatihan bersama atau kunjungan langsung antar lembaga.
Pembicaraan juga menyentuh soal keamanan perbatasan. Selat Malaka dan Selat Singapura, dua jalur laut sibuk itu, masih jadi titik rawan. Modus penyelundupan klasik seperti transfer barang dari kapal ke kapal di tengah laut, atau penyelundupan lewat feri penumpang dengan metode body strapping, masih terus terjadi. Ini jelas butuh pengawasan ketat dan koordinasi yang erat antara kedua negara.
Sementara di garis depan lain, Indonesia punya pendekatan sendiri. BNN mengedepankan soft power lewat Program ANANDA, yang menargetkan pencegahan sejak dini pada anak-anak. Mereka melihat Singapura punya banyak praktik baik di bidang pendidikan preventif. Peluang untuk bertukar pengalaman, terutama dalam menyusun kurikulum pencegahan narkoba, terbuka lebar. Kerja sama, tampaknya, akan diperkuat dari hulu ke hilir.
Artikel Terkait
Mensos Gus Ipul Resmikan Pelatihan Manajemen untuk Kepala Sekolah dan Guru Sekolah Rakyat
Wagub Rano Karno Buka Peluang Tambah 5.000 Personel Satpol PP Secara Bertahap
Istri dan Dua Anak Bandar Narkoba Koko Erwin Jadi Tersangka TPPU, Polisi Sita Aset di NTB
Di Tengah Hiruk Media Sosial, Tiga Pejawat Ini Buktikan Kinerja Nyata Lebih Berarti dari Sekadar Citra