Di Tengah Hiruk Media Sosial, Tiga Pejawat Ini Buktikan Kinerja Nyata Lebih Berarti dari Sekadar Citra

- Jumat, 24 April 2026 | 20:25 WIB
Di Tengah Hiruk Media Sosial, Tiga Pejawat Ini Buktikan Kinerja Nyata Lebih Berarti dari Sekadar Citra
Berikut adalah hasil penulisan ulang artikel tersebut dengan gaya bahasa yang lebih manusiawi, sesuai dengan instruksi yang diberikan.

Benjamin Franklin pernah ninggalin pesan klasik: "Well done is better than well said." Kurang lebih, kerja nyata itu jauh lebih berharga daripada cuma omongan manis. Tapi, apa yang disampaikan salah satu founding father Amerika itu kayaknya jadi paradoks di zaman sekarang. Apalagi kalau kita tarik ke urusan pemerintahan dan kebijakan publik di Indonesia. Apakah "kerja nyata" aja cukup di era digital yang super bising ini? Jawabannya, ya, relatif banget.

Sekarang, di era media sosial, gampang banget orang jatuh ke dalam bias heuristik. Intinya, kita lebih gampang percaya dan nyerap informasi negatif yang bikin emosi. Akibatnya, saluran informasi publik lebih sering ngasih panggung ke aktor-aktor yang suka nyebar sentimen sinis. Di sisi lain, banyak banget terobosan positif yang malah sengaja dibelokin jadi misinformasi yang menakutkan.

Coba inget lagi masa pandemi Covid-19. Vaksin yang secara sains jelas jadi kunci penyelamat, malah dinarasikan sebagai propaganda asing buat pembunuhan massal. Atau di dunia korporasi negara, pas ada upaya positif merampingkan anak cucu perusahaan yang merugi demi efisiensi, narasinya malah dipelintir jadi "negara bangkrut yang ngobral aset." Begitu brutalnya realitas media sosial sekarang. Banyak pihak yang akhirnya kena sindrom "Not to impact, but to impress" kerja bukan buat ngasih dampak fundamental, tapi cuma cari validasi, panggung, dan metrik popularitas yang artifisial.

Nah, di tengah kebisingan inilah, kita perlu memaknai ulang fenomena "diamnya" orang-orang berprestasi. Inilah yang disebut The Art of Silence (Seni Diam). Diam di sini bukan berarti pasif, lho. Justru sebaliknya, ini adalah ruang inkubasi untuk eksekusi strategis. Karena bagaimanapun juga, prinsip sejati dari sebuah kebijakan adalah melahirkan manfaat, bukan sekadar memoles citra. Kita perlu mendorong lebih banyak kisah tentang para pekerja sunyi ini untuk muncul ke permukaan. Hal ini krusial buat ngimbangin narasi misinformasi yang sering disebar demi kepentingan politik sempit.

Memang, di awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, masih ada pekerjaan rumah di sana-sini. Tapi, objektivitas menuntut kita untuk lihat prestasi besar yang lagi dicetak. Khususnya dalam mengubah haluan dari pertumbuhan ekonomi yang semu (artificial economic growth) menuju pertumbuhan yang fundamental.

Sebagai contoh nyata, coba lihat sepak terjang Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Dia adalah arsitek swasembada pangan. Ini jadi sejarah tersendiri karena di tengah dunia yang dihantui krisis dan ancaman kelaparan, Indonesia perlahan tapi pasti mampu membangun ketahanan pangannya. Ini bukan sekadar klaim, tapi kerja teknis: mencetak sawah baru, memperbaiki tata niaga pupuk, hingga optimalisasi irigasi.

Ada juga sosok Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Secara konsisten, dia membuktikan diri sebagai tipe pemimpin yang lebih banyak bekerja ketimbang bersuara. Peningkatan citra dan kinerja Polri bisa dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat luas. Tanpa banyak drama di depan kamera, Listyo Sigit melakukan bersih-bersih internal secara tegas tanpa pandang bulu. Dia mendorong digitalisasi layanan kepolisian (seperti tilang elektronik/ETLE) yang meminimalkan pungli, serta mengedepankan keadilan restoratif (restorative justice) yang benar-benar menyentuh rasa keadilan masyarakat di akar rumput. Ia menjadikan Polri sebagai shock absorber di tengah gejolak sosial, bukan pembuat riuh.

Pun halnya dengan Dony Oskaria, Kepala Badan Pelaksana (BP) BUMN. Menurut saya, dia adalah contoh sempurna dari penerapan The Art of Silence dalam manajemen korporasi. Sebagai arsitek transformasi BUMN, ia melakukan konsolidasi masif yang memangkas jumlah entitas BUMN dari 1.077 perusahaan yang tumpang tindih, menjadi hanya 257 perusahaan yang fokus dan berdaya saing. Kinerja nyata Dony juga terekam kuat saat bencana melanda Sumatera pada akhir 2025. Tanpa banyak publikasi retoris, ia mengorkestrasi kekuatan BUMN untuk memulihkan kondisi, berkolaborasi membangun ribuan hunian warga dalam waktu yang sangat singkat.

Dony membuktikan bagaimana seni bekerja menavigasi krisis tanpa perlu banyak bersuara di media. Karakter kerja fundamentalnya juga tercermin dari kebijakannya yang tegas dalam menata ulang laporan keuangan BUMN. Jika selama ini ada kecenderungan laporan di-makeup (poles buku) biar kelihatan mengesankan secara artifisial, Dony meruntuhkan kultur itu. Ia mewajibkan transparansi absolut. Prinsipnya sederhana dan berani: jika kinerja dan laporannya buruk, maka BUMN itu wajib bertransformasi. Sebaliknya, jika laporannya baik, itu menjadi standar minimum untuk dipertahankan dan ditingkatkan. Larangan praktik "poles buku" ini adalah langkah fundamental. Karena kejujuran data adalah fondasi utama penciptaan nilai kerja nyata, bukan cuma bersuara.

Pada akhirnya, ada benang merah yang mengikat gaya kepemimpinan Amran, Listyo, maupun Dony. Mereka membuktikan bahwa kerja keras selalu bersuara lebih nyaring dibandingkan sekadar ucapan manis. Tanpa perlu over-claim atau pencitraan berlebih, kinerja tersebut tersaji secara konkret dan menjadi jawaban telak bagi masyarakat yang bertanya tentang arah pemerintahan Prabowo. Tentu, bukan hanya mereka bertiga. Masih banyak deretan pejabat di kabinet ini yang menorehkan prestasi nyata di luar sorotan lampu kamera. Di sisi lain, kita juga tidak menafikan ada menteri-menteri berkinerja apik yang memang tampil vokal dan berkomunikasi dengan baik di publik. Sebut saja Erick Thohir atau Bahlil Lahadalia.

Kolaborasi antara para "pekerja sunyi" dan "komunikator ulung" ini pada akhirnya menjadi perisai terbaik untuk menjawab misinformasi dan propaganda yang sengaja ditebar oleh oknum tertentu untuk mendiskreditkan pemerintah. Propaganda mungkin akan selalu riuh di media sosial. Namun, di dunia nyata, masyarakat akar rumput pada akhirnya merasakan langsung dampak kebijakan tersebut.

Ibarat sebuah pepatah kuno: Tak perlu repot-repot menebas kabut dengan pedang, karena kabut yang tebal sekalipun pada nyatanya akan menguap dan berlalu saat matahari terbit. Kinerja nyata adalah matahari itu. Dan ia selalu membenarkan bahwa actions speak louder than words.

Adib MiftahulPengamat Kebijakan Publik

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar