Di Pondok Balik, Aceh Tengah, tanah terus bergerak. Bukan hal baru, tapi ancamannya makin nyata. Lubang yang mirip sinkhole itu meluas, menggerogoti pinggiran jalan vital yang menghubungkan Aceh Tengah dan Bener Meriah. Warga setempat waswas, karena akses hidup mereka perlahan terkikis.
Hingga Selasa lalu, pergerakannya makin mendekati Jalan Buter–Pondok Balik. Jalur kabupaten ini ibarat urat nadi. Bayangkan, semua mobilitas warga dan hasil bumi dari kebun mereka mengalir lewat sini. Kalau putus, dampaknya bakal luar biasa.
Kepala Pelaksana BPBD setempat, Andalika, membenarkan situasi ini sudah berlangsung lama. "Ini bukan fenomena mendadak," katanya.
Menurutnya, pergerakan tanah sudah terpantau sejak 2002. Tapi pasca gempa Gayo 2013, semuanya jadi makin parah. "Di 2026 ini, pergerakannya meningkat lagi. Jalur jalan sebelumnya sudah pernah direlokasi, sekarang terancam lagi," ujar Andalika kepada awak media, Rabu (14/1).
Yang bikin ngeri, lubangnya sekarang sudah sangat dekat dengan badan jalan utama. Saat hujan deras, potensi pelebarannya makin besar. Risiko untuk pengendara jelas meningkat.
"Kami sudah pasang police line di titik rawan. Setiap hari juga ada imbauan agar masyarakat ekstra hati-hati kalau melintas," jelasnya.
BPBD punya pesan jelas: jangan melintas terlalu ke pinggir, dan sebisa mungkin hindari area itu saat cuaca ekstrem. Mereka juga sudah siapkan jalur alternatif, untuk jaga-jaga kalau akses utama nanti benar-benar harus ditutup demi keselamatan.
"Untuk sementara, masih ada jalan lain yang bisa dilewati. Kami terus pantau dan update informasi perkembangan di lapangan," tambah Andalika.
Nah, soal penyebab, kajian dari ESDM Aceh memberi penjelasan. Ini sebenarnya adalah slow moving landslide alias longsor gerak lambat, bukan amblesan tiba-tiba. Tanah di sana materialnya didominasi endapan vulkanik. Sifatnya gampang jenuh air dan jadi tidak stabil. Singkatnya, tanahnya gampang "melorot".
Faktor lain juga memperparah. Curah hujan tinggi di pegunungan, lereng yang terjal, plus retakan-retakan lama yang jadi jalur masuknya air hujan. Hasilnya? Pergerakan tanah makin cepat. Dari pantauan lapangan, bidang gelincirnya bahkan sudah mendekati bentuk tegak lurus sungguh mengkhawatirkan.
Data ESDM mencatat, hingga tahun 2025 lalu, luas area longsoran sudah lebih dari 27 ribu meter persegi. Dan ia terus merambat mendekati jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik. Tak heran, wilayah ini dikategorikan zona rawan tinggi yang butuh penanganan serius dan berkelanjutan.
Upaya penanganan teknis, termasuk wacana relokasi trase jalan, kini sedang dikoordinasikan BPBD dengan Dinas PUPR dan ESDM. Sementara itu, imbauan untuk masyarakat tetap sama: patuhi rambu peringatan dan garis pengaman yang terpasang. Keselamatan adalah yang utama, sebelum segalanya menjadi terlambat.
Artikel Terkait
Mahfud MD Kritik Upaya Kasasi atas Vonis Bebas Delpedro, Ingatkan Jiwa KUHAP Baru
Ahli: Budaya Politik Tanah Subur Penyebab Money Politics Terus Berulang
Gunung Semeru Erupsi Tujuh Kali, Kolom Abu Capai 800 Meter
SulawesiPos.com Gelar Diskusi Buku Bahas Politik Uang dan Demokrasi