“Indonesia memiliki salah satu cadangan karbon biru terbesar di dunia, menyimpan sekitar 17 persen karbon biru global,” papar Trenggono.
Ekosistem pesisir itu, menurutnya, adalah penyerap karbon kunci yang berperan besar mengatur iklim global dan menjaga kesehatan laut.
Pembicara lain dalam forum tersebut, European Commissioner for Sustainable Transport and Tourism, Apostolos Tzitzikostas, punya sudut pandang lain. Baginya, ekonomi biru bukan cuma soal ekonomi semata.
“Ini juga tentang daya saing dan keamanan,” katanya.
Uni Eropa sendiri mendorong penggunaan bahan bakar alternatif di sektor maritim untuk kurangi jejak karbon. Mereka sedang menyiapkan sebuah strategi komprehensif untuk pelabuhan dan sektor maritim yang diharapkan bisa menjawab tantangan ini.
Ada satu kabar penting lain yang diumumkan Trenggono di forum bergengsi itu: Indonesia akan menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit 2026. Pertemuan global itu rencananya digelar di Bali pada Juni mendatang, menghadirkan para pemimpin dunia, pebisnis, dan ahli untuk merancang aksi nyata tata kelola laut yang berkelanjutan.
Isu kelautan memang jadi salah satu fokus utama WEF tahun ini. Itu terlihat dari inisiatif Blue Davos dan penetapan 2026 sebagai Year of Water sebuah upaya terpadu untuk mengelola laut dan perairan tawar guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan iklim.
Artikel Terkait
Longsor Guncang Perumahan Cikarang, Jalan Terputus dan Rumah Retak Menganga
Bencana Beruntun di Afganistan: 14 Nyawa Melayang Akibat Hujan Deras dan Longsor
Satu Korban Kecelakaan Pesawat di Bulusaraung Berhasil Dievakuasi, Lima Lainnya Masih Menunggu
KLH Seret Tiga Perusahaan ke Meja Hijau, Tuntutan Ganti Rugi Capai Ratusan Miliar