Angka resmi akhirnya keluar dari Teheran. Pemerintah Iran mengumumkan, sedikitnya 3.117 orang tewas dalam gelombang unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang negara itu awal bulan ini. Angka itu, menurut mereka, mencakup korban selama beberapa minggu aksi protes berlangsung.
Tapi, ya selalu ada ‘tapi’ dalam situasi seperti ini. Para aktivis hak asasi manusia langsung menyanggah. Mereka bersikeras jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi. Alasannya? Penindakan yang dilakukan pasukan keamanan terhadap para demonstran dinilai terlalu keras, bahkan brutal.
Awalnya sih, unjuk rasa ini cuma berawal dari kekecewaan publik terhadap kondisi ekonomi yang makin sulit. Namun, kemarahan itu dengan cepat berubah jadi sesuatu yang lebih besar. Aksi protes meluas, berubah menjadi gerakan penentangan terhadap kepemimpinan ulama yang telah memerintah Iran sejak revolusi 1979. Beberapa kota pun memanas, diwarnai kerusuhan dan bentrokan yang tak terhindarkan.
Untuk saat ini, suasana di jalanan memang terlihat lebih tenang. Gelombang protes tampaknya mereda. Tapi ketenangan ini punya bayangan kelam. Para pengamat menyebut, meredanya aksi lebih disebabkan oleh operasi keras aparat, yang dibungkus oleh pemadaman internet skala besar. Situasinya jadi sunyi, tapi sunyi yang mencekam.
Pihak berwenang Iran punya narasi sendiri. Mereka mengecam keras gelombang protes ini, menyebutnya sebagai insiden “teroris” yang penuh “kerusuhan”. Siapa dalihnya? Amerika Serikat, tentu saja. Klaim ini bertolak belakang dengan laporan kelompok HAM internasional, yang menyebut ribuan demonstran yang hanya menuntut perubahan tewas ditembak langsung oleh pasukan keamanan.
Nah, pernyataan resmi itu datang dari yayasan veteran dan martir Iran, yang dikutip televisi pemerintah pada Kamis (22/1/2026). Dalam penghitungan pertama yang dibuka ke publik, disebutkan angka 3.117 korban jiwa.
Dari jumlah itu, rinciannya begini: sebanyak 2.427 orang di antaranya termasuk anggota pasukan keamanan dikategorikan sebagai “martir” dalam ajaran Islam. Mereka juga disebut sebagai korban “tidak bersalah” dalam pernyataan tersebut.
Lalu, siapa 690 orang lainnya?
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Akbar Pourjamshidian, memberikan penjelasan gamblang ke televisi pemerintah.
“Sebanyak 690 orang yang tidak termasuk di antara para martir adalah teroris, perusuh, dan mereka yang menyerang situs-situs militer,” ujarnya.
Dua kubu, dua versi cerita yang sama sekali berbeda. Di satu sisi, pemerintah bicara tentang martir dan teroris. Di sisi lain, dunia internasional dan aktivis mendengar jeritan keluarga yang kehilangan anak muda mereka di jalanan. Kebenaran mungkin ada di tengah, atau justru tersembunyi di balik kesunyian pasca-pemadaman internet itu.
Artikel Terkait
Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Tekanan Ekonomi Jadi Senjata Utama
Daerah Sumut dan Sumbar Kumpulkan Rp 287 Miliar untuk Pemulihan Aceh Pasca-Bencana
PERKUPI Tegaskan Komitmen Perkuat Asta Cita Presiden demi Harmoni Umat Beragama
Ketua DPRD Magetan Ditahan Kejaksaan atas Dugaan Korupsi Dana Hibah Rp335,8 Miliar