Di tengah forum para pemimpin dunia di Davos, pidato Donald Trump lagi-lagi memancing perhatian. Bukan karena substansinya, tapi karena salah ucap yang berulang. Presiden Amerika Serikat itu beberapa kali menyebut "Iceland" atau Islandia, padahal yang jelas-jelas ia maksud adalah Greenland.
Gedung Putih tentu saja tak tinggal diam. Lewat pernyataan resminya, mereka membantah keras bahwa Trump mengalami kebingungan apa pun di panggung penting itu. Bantahan itu disampaikan Kamis (22/1/2026), menanggapi laporan AFP yang menyoroti kekeliruan tersebut.
Seperti kita tahu, keinginan Trump untuk mengakuisisi Greenland bukan hal baru. Pulau strategis di Arktik yang jadi wilayah otonomi Denmark itu sudah lama ia incar. Alasan yang ia sodorkan selalu sama: ancaman keamanan dari Rusia dan China di Lingkaran Arktik. Di usianya yang ke-79, niat itu tak juga surut.
Nah, sehari sebelum pidato kontroversialnya, tepatnya Rabu (21/1), Trump malah mengumumkan kabar yang terdengar positif. Ia menyebut sudah ada "kerangka kerja" untuk kesepakatan masa depan soal Greenland. Tak cuma itu, ia juga membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap sejumlah negara Eropa yang sebelumnya menentang langkahnya. Seolah memberi karpet merah setelah sebelumnya mengancam.
Namun begitu, pidato utamanya di Davos justru memanas. Kritikannya yang pedas terhadap sekutu-sekutu NATO jelas bikin geram. Ketegangan dalam hubungan transatlantik pun makin terasa.
Di tengah kritik itulah kekeliruan terjadi.
"Saya membantu NATO, dan sampai beberapa hari terakhir, ketika saya memberitahu mereka tentang Iceland, mereka menyukai saya," ujar Trump.
"Mereka tidak ada di sana untuk kita soal Iceland -- itu yang bisa saya pastikan. Maksud saya, pasar saham kita mengalami penurunan pertama kemarin karena Iceland. Jadi Iceland sudah merugikan kita banyak uang," sebutnya lagi.
Konteksnya jelas. Dari pembahasan tentang akuisisi hingga ancaman di Arktik, yang ia rujuk pastilah Greenland. Bukan Iceland, pulau tetangga yang lebih kecil di Atlantik Utara yang terkenal dengan gunung apinya dan pemandangan alamnya yang dramatis. Kekeliruan itu terasa janggal, dan langsung menyebar.
Artikel Terkait
Pemutihan Pajak Kendaraan NTB 2026 Berlaku 15 Juni, Hapus Denda 100 Persen dan Diskon Mutasi 50 Persen
Kejagung Kembangkan Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis, Tersangka Bertambah Jadi Lima Orang
Korea Utara Nyatakan Status Nuklirnya ‘Tidak Dapat Diubah’, Tolak Seruan Denuklirisasi AS dan Sekutu
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp74.550 per Kilogram, Tertinggi di Antara Bahan Pokok