Musim hujan belakangan ini memang bikin pusing. Bagi para pekerja, rutinitas berangkat dan pulang kantor jadi tantangan tersendiri. Mereka pun harus kreatif, menyiapkan berbagai 'senjata' andalan untuk menghadapi guyuran air yang datangnya sering tak bisa ditebak.
Dian, seorang pegawai bank berusia 40 tahun, adalah salah satunya. Setiap hari, tas kerjanya dipastikan berisi 'peralatan tempur' lengkap. "Kita harus siap-siap payung, mantel, jas hujan," ujarnya saat ditemui di Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu lalu.
Alasannya praktis. "Soalnya kan aku naik ojol dari rumah ke stasiun. Nah, nggak semua driver ojol kan punya mantel buat penumpang," tambah Dian.
Menurut pengamatannya, hujan akhir-akhir ini punya karakter yang berbeda. Lebih awet dan seolah merata di mana-mana. Pengalamannya, jika hujan sudah mengguyur rumahnya di Jakarta, maka sampai di kantornya di Cikarang pun kondisi langit masih sama: mendung dan gerimis.
"Hujannya awet-awet. Dan itu rata, tahu. Jadi kalau di Jakarta hujan, sampai Cikarang pun masih basah," ceritanya.
Di sisi lain, cerita datang dari Tata, warga Matraman yang berusia 20 tahun. Pengalamannya bahkan lebih berat. Bukan cuma berurusan dengan hujan yang tak kunjung reda, tapi juga dengan genangan air yang masuk ke tempat tinggal dan ruang kerjanya.
"Dari rumah sampai kantor, hujannya terus-terusan. Di kantor sempat banjir, meski cuma setinggi mata kaki. Tapi kalau di rumah, airnya nyampe hampir sebetis. Itu sih yang bikin repot, kerja jadi double karena harus bersih-bersih usir banjir," tutur Tata.
Dampaknya beruntun. Tata bercerita bahwa hujan yang terus-menerus itu sempat membuatnya jatuh sakit. Belum lagi waktu yang sering terbuang percuma. "Baru kemarin aku sakit, sekarang alhamdulillah sudah mendingan. Lalu, kalau hujan lagi deras-derasnya, mau naik kereta atau ojol kan harus nunggu dulu. Jadinya ya telat, waktu banyak terbuang," terangnya.
Namun begitu, ia punya siasat sendiri. Strategi sederhana untuk bertahan. "Aku sih usahain pakai jaket tebal, terus bawa payung atau jas hujan di tas. Itu wajib," imbuhnya.
Harapannya sederhana. "Semoga aja cuaca nggak makin parah, tapi malah membaik ke depannya."
Artikel Terkait
Kereta Bathara Kresna Terpaksa Berhenti di Solo karena Mobil Land Cruiser Parkir Terlalu Dekat Rel
Taksi Listrik Mogok Korsleting di Perlintasan, Picu Tabrakan Beruntun Kereta Api di Bekasi Timur
Pemerintah Siapkan Rp4 Triliun untuk Evaluasi Keselamatan Perkeretaapian Usai Kecelakaan di Bekasi Timur
TikTok Nonaktifkan 1,7 Juta Akun Anak, Komdigi Apresiasi Langkah Konkret