Namun begitu, pihak keraton lebih memposisikan diri sebagai pihak yang meminta pandangan. "Kami hanya mohon arahan saja dari pemerintah. Kami harus seperti apa," tambah GKR Anom.
Harapannya jelas: kerukunan. Ia ingin semua pihak bisa diajak duduk bersama, bekerja sama dengan rukun untuk mengembangkan keraton. Itu poin utamanya.
Di sisi lain, Gusti Purbaya sendiri menyebut pertemuan ini murni berniat bersilaturahmi. Dalam pernyataannya, ia sepakat dengan sang kakak.
"Diberikan masukan-masukan juga, supaya keraton bisa tetap berjalan dengan baik. Dan selalu pasti ada musyawarah," imbuh Gusti Purbaya.
Pertemuan yang berlangsung cukup singkat itu meninggalkan kesan akan adanya upaya untuk membangun komunikasi. Setelah gemuruh konflik, kini yang diutamakan adalah dialog dan harapan untuk mengelola warisan budaya itu secara lebih kolektif.
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing