Malam ini, jenazah pramugari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung akhirnya berhasil dievakuasi. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, jasad tersebut langsung dibawa ke RS Bhayangkara di Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut.
"Langsung dibawa oleh ambulans ke RS Bhayangkara,"
kata Danrem 142/Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, mengonfirmasi hal tersebut.
Sebenarnya, jenazah ini sudah ditemukan sejak Senin siang, tepatnya sekitar pukul 14.00 Wita, di sebuah lereng terjal. Namun, proses evakuasi langsung terkendala. Cuaca di gunung berubah jadi sangat buruk hujan badai disertai kabut tebal menyelimuti area, memaksa tim untuk menunda.
Hari ini, meski situasi di lereng masih dilanda cuaca ekstrem sejak pagi, tim SAR memutuskan untuk tetap bergerak. Mereka punya tekad bulat: jenazah harus secepatnya dibawa turun.
"Operasi kami mulai lagi pukul 11.00 Wita tadi," jelas Andre Rumbayan. "Cuacanya memang berat, hujan dan angin kencang mencapai 20-25 knot. Tapi alhamdulillah, pukul 17.15 Wita kami sudah berhasil mencapai puncak dan memulai penurunan."
Dari puncak itulah perjalanan terakhir dimulai. Tim dengan hati-hati menuruni jenazah melalui medan yang sulit. Barulah sekitar pukul 20.00 Wita, mereka tiba di Desa Tompubulu, titik temu di kaki gunung, menandakan akhir dari misi evakuasi yang penuh tantangan ini.
Artikel Terkait
HKI: KEK di Pulau Jawa Jadi Instrumen Strategis Percepat Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang Tiga Pekan, Namun Serangan di Lapangan Tewaskan Lima Orang Termasuk Jurnalis
Polisi Gagalkan Penyelundupan 1,9 Ton Sianida dari Filipina di Gorontalo Utara
Peringati Hari Transportasi Nasional, Seluruh Moda Transportasi Umum di Jakarta Gratis