Wamen Dalam Negeri Soroti Stadion Sepak Bola: Aset Mewah yang Sunyi dan Peluang Ekonomi yang Terlewat

- Selasa, 20 Januari 2026 | 17:00 WIB
Wamen Dalam Negeri Soroti Stadion Sepak Bola: Aset Mewah yang Sunyi dan Peluang Ekonomi yang Terlewat

Di Golden Boutique Hotel Kemayoran, Jakarta, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus baru saja membuka sebuah forum diskusi. Topiknya spesifik: bagaimana mengelola kawasan stadion sepak bola di daerah. Tapi bagi Wiyagus, ini bukan sekadar urusan lapangan rumput dan bangku penonton. Sepak bola di Indonesia, katanya, sudah lama melampaui batas-batas olahraga. Ia menjelma menjadi fenomena sosial dan ekonomi yang punya daya ungkit luar biasa.

"Besarnya basis penggemar ini menjadikan sepak bola bukan sekadar olahraga ya, tetapi juga fenomena sosial dan ekonomi yang memiliki daya ungkit besar ya," ujar Wiyagus.

Angkanya memang mencengangkan. Antusiasme masyarakat terhadap sepak bola disebutnya mencapai hampir 69 persen dari total penduduk. Bayangkan, puluhan juta di antaranya adalah suporter fanatik. Itu pasar yang sangat besar. Namun begitu, ada masalah yang menggelayuti. Dalam sepuluh tahun terakhir, pemerintah pusat sudah membangun dan merevitalisasi setidaknya 17 stadion dengan anggaran negara. Sayangnya, banyak dari aset mahal itu mangkrak. Hidup sesaat hanya ketika ada pertandingan besar, lalu sepi kembali.

Menurut Wiyagus, akar persoalannya ada di tata kelola. Mulai dari penunjukan operator, pembiayaan perawatan, hingga kerja sama dengan klub atau pihak ketiga. Di sisi lain, banyak klub daerah juga masih terkendala kemampuan manajerial dan keuangan yang terbatas. Alhasil, stadion yang seharusnya jadi pusat denyut nadi masyarakat, justru jadi bangunan yang sunyi.

Tak cuma itu. Dia juga menyoroti soal keamanan dan ketertiban saat pertandingan digelar. Mengatur mobilitas puluhan ribu suporter bukan perkara mudah. Tapi di balik tantangan itu, justru terselip peluang emas. Kehadiran massa dalam jumlah besar sebenarnya bisa memompa ekonomi warga sekitar. Dari jualan kuliner, merchandise, jasa transportasi, sampai ekonomi kreatif. Sayangnya, peluang ini kerap terlewat. Belum ada pengelolaan terintegrasi yang menjembatani gelombang penonton dengan usaha-usaha lokal.


Halaman:

Komentar