Unjuk rasa ini sendiri bukan hal sepele. Awalnya dipicu oleh kekecewaan publik terhadap kondisi ekonomi yang sulit akhir Desember lalu, gelombang protes dengan cepat berubah menjadi gerakan antipemerintah yang lebih luas. Suara-suara menuntut perubahan, bahkan mengkritik fondasi pemerintahan ulama yang telah berkuasa lama.
Banyak yang bilang, ini adalah kerusuhan paling mematikan sejak Revolusi 1979. Sebuah tantangan serius bagi otoritas di Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
Memang, gelombang protes tampak mereda belakangan ini. Namun, kemeredaan itu datang setelah tindakan keras aparat keamanan. Kelompok-kelompok HAM internasional menyoroti operasi tersebut, yang mereka klaim telah menelan ribuan korban jiwa.
Di sisi lain, pejabat Iran punya narasi berbeda. Mereka mengakui aksi damai di awal, namun menuding segalanya berubah menjadi kekacauan karena campur tangan pihak asing. Menurut mereka, musuh bebuyutan seperti Amerika Serikat dan Israel-lah yang membajak protes, dengan tujuan tunggal: menggoyang kestabilan rezim.
Artikel Terkait
Wali Kota Madiun Bantah Gratifikasi, KPK Sita Rp 550 Juta dari Orang Kepercayaannya
Brimob Banten Bersihkan Sekolah dan Bagikan Al-Quran untuk Korban Banjir Aceh Utara
Prabowo Bawa Pulang Komitmen Inggris untuk 1.500 Kapal Ikan
KPK Berburu Tim 8, Jaringan Pemerasan di Balik OTT Bupati Pati