Menurut HNW, dalam berkontribusi pada 17 target SDGs seperti akses pendidikan berkualitas dan kolaborasi global pendidikan tinggi Islam harus tetap berpegang pada nilai keislaman dan keindonesiaan. Apalagi, track record Indonesia dalam mewujudkan SDGs terbilang sukses.
"Indonesia termasuk yang paling progresif. Laporan tahunan PBB mencatat capaian kita 62,5%, di atas rata-rata negara anggota lainnya," jelasnya dengan nada optimis.
Jika menengok sejarah, kebangkitan Indonesia dan umat Islam memang selalu dimulai dari pendidikan yang berkualitas. Dalam Islam sendiri, wahyu pertama adalah perintah untuk membaca dan belajar 'Iqra'. Itu jadi dasar fundamental.
Jejarah telah mencatat nama-nama besar seperti Al-Khawarizmi di matematika atau Ibnu Sina di kedokteran. Figur-figur cendekiawan muslim kelas dunia semacam inilah yang harusnya jadi spirit dan inspirasi bagi kampus-kampus Islam seperti Asy-Syukriyyah untuk melahirkan generasi penerus yang sama briliannya.
Di sisi lain, kolaborasi dengan dunia global juga penting. Untuk itu, penguasaan bahasa asing seperti Inggris dan Arab menjadi kunci. Kebijakan 'Kampus Berdampak' dari Kemdikbudristek juga sejalan, karena mendorong perguruan tinggi untuk lebih aktif dan berkualitas.
"Kondisi ini patut disyukuri," pungkas HNW, mengakhiri paparannya.
"Seperti nama Asy-Syukriyyah yang berarti bersyukur, mari kita maksimalkan semua potensi untuk mencetak cendekiawan muda yang unggul, modern, berwawasan global, dan tentu saja, cinta pada umat, bangsa, dan negara."
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal, Parah, dan Meluas
Bazar Prime Ramadan Jakarta 2026 Digelar di Balai Kota, Dukung UMKM dan Beri Santunan
Pengendara Motor Tewas Tertabrak Bus TransJakarta di Bandengan
Jokowi Bocorkan Dua Poin Utama Pembahasan Prabowo dengan Tokoh Nasional