HNW: Kampus Islam Bisa Lahirkan Generasi Cendekiawan Berwawasan Global

- Senin, 19 Januari 2026 | 15:35 WIB
HNW: Kampus Islam Bisa Lahirkan Generasi Cendekiawan Berwawasan Global

Potensi perguruan tinggi Islam untuk melahirkan generasi unggul ternyata sangat besar. Hal ini disampaikan Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, dalam sebuah kuliah umum di Tangerang. Menurutnya, kampus-kampus Islam bisa jadi garda terdepan dalam mencetak cendekiawan yang tak hanya religius dan cinta tanah air, tapi juga punya wawasan global. Yang menarik, kontribusi ini bisa selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs yang digaungkan PBB.

Kuliah umum bertajuk 'Pendidikan Tinggi Islam dan Kenegaraan Berbasis SDGs' itu digelar di Institut Asy-Syukriyyah, Kamis lalu. Hadir dalam kesempatan itu Sekretaris Yayasan Ahmad Zarkasih, Rektor Dr. Evan Hamzah Muchtar, beserta jajaran pimpinan fakultas dan ratusan mahasiswa.

"Peluangnya terbuka lebar," kata Hidayat, atau yang akrab disapa HNW, melalui keterangan tertulisnya.

"Pendidikan tinggi Islam punya ruang untuk menyiapkan generasi Milenial dan Gen Z yang cerdas, modern, dan berpikiran global. Tapi, fondasinya harus tetap ajaran Islam, rasa cinta bangsa, dan tidak tercerabut dari akar budaya dan religiusitas kita. Ini semua demi mendukung target SDGs. Jadi, potensi yang ada jangan sampai disia-siakan, harus dimaksimalkan betul," tegasnya.

HNW lantas mengaitkan hal ini dengan konstitusi. Ia menyebut, realisasi dari visi pendidikan tinggi Islam dan SDGs punya pijakan kuat di UUD 1945, khususnya Pasal 31. Ayat 3 misalnya, menegaskan peran pemerintah dalam menyelenggarakan sistem pendidikan yang meningkatkan keimanan dan akhlak mulia. Di sini, nilai agama dan kenegaraan sudah menyatu.

Tak cuma itu, dukungan anggaran juga dijamin konstitusi. Pasal 31 ayat 4 mewajibkan pemerintah mengalokasikan minimal 20% APBN/APBD untuk pendidikan. Untuk tahun 2026 ini, angkanya mencapai Rp 754 triliun. Sementara ayat 5 mengingatkan, kemajuan iptek harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa.

Fakta lainnya yang ia ungkap cukup mencengangkan. Indonesia bukan cuma negara dengan populasi muslim terbesar. Ternyata, jumlah masjid, pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islamnya juga paling banyak di dunia.

"Perguruan tinggi di bawah Kemdikbudristek ada 2.970. Sementara yang di bawah Kemenag, 907. Totalnya hampir 3.877 institusi. Perkembangan perguruan tinggi Islam ini luar biasa," ujarnya.

Menurut HNW, dalam berkontribusi pada 17 target SDGs seperti akses pendidikan berkualitas dan kolaborasi global pendidikan tinggi Islam harus tetap berpegang pada nilai keislaman dan keindonesiaan. Apalagi, track record Indonesia dalam mewujudkan SDGs terbilang sukses.

"Indonesia termasuk yang paling progresif. Laporan tahunan PBB mencatat capaian kita 62,5%, di atas rata-rata negara anggota lainnya," jelasnya dengan nada optimis.

Jika menengok sejarah, kebangkitan Indonesia dan umat Islam memang selalu dimulai dari pendidikan yang berkualitas. Dalam Islam sendiri, wahyu pertama adalah perintah untuk membaca dan belajar 'Iqra'. Itu jadi dasar fundamental.

Jejarah telah mencatat nama-nama besar seperti Al-Khawarizmi di matematika atau Ibnu Sina di kedokteran. Figur-figur cendekiawan muslim kelas dunia semacam inilah yang harusnya jadi spirit dan inspirasi bagi kampus-kampus Islam seperti Asy-Syukriyyah untuk melahirkan generasi penerus yang sama briliannya.

Di sisi lain, kolaborasi dengan dunia global juga penting. Untuk itu, penguasaan bahasa asing seperti Inggris dan Arab menjadi kunci. Kebijakan 'Kampus Berdampak' dari Kemdikbudristek juga sejalan, karena mendorong perguruan tinggi untuk lebih aktif dan berkualitas.

"Kondisi ini patut disyukuri," pungkas HNW, mengakhiri paparannya.

"Seperti nama Asy-Syukriyyah yang berarti bersyukur, mari kita maksimalkan semua potensi untuk mencetak cendekiawan muda yang unggul, modern, berwawasan global, dan tentu saja, cinta pada umat, bangsa, dan negara."

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar