Di lapangan, cerita warga jauh lebih nyata dan menyentuh. Iyat, salah seorang korban, menggambarkan bagaimana dinding rumahnya tiba-tiba rubuh. "Dindingnya ambruk," katanya singkat, namun penuh beban. Rupanya, dinding itu sudah retak-retak sebelumnya dan sama sekali tak sanggup menahan tekanan air yang begitu deras.
Masalahnya tak cuma sampai di situ. Stok makanan mereka sudah menipis setelah seminggu terisolasi. Yang paling kritis adalah air bersih. Iyat terpaksa memasak air hujan untuk minum keluarganya karena air sumur sudah keruh tak karuan.
"Untuk air minumnya saya masak air hujan, karena air sumur nggak bisa dipasak," ucap Iyat, menggambarkan betapa sulitnya kondisi saat ini.
Nasib serupa dialami Sakib, warga lain. Rumahnya ambruk diterjang banjir pada Minggu (11/1) lalu. "Batanya lembab karena terendam banjir, nggak kuat menahan, udah retak-retak, langsung ambruk," ceritanya. Sampai sekarang, puing-puing reruntuhan masih berserakan. Mau dibersihkan pun susah, sebab area sekitarnya masih becek dan tergenang.
"Belum dibongkar masih calebrik (becek)," keluhnya.
Jadi, meski banjir perlahan surut, penderitaan warga Desa Idaman belum juga berakhir. Mereka terjebak di antara sisa-sisa rumah yang hancur dan ketidakpastian bantuan.
Artikel Terkait
Pegawai Toko di Cisarua Tewaskan Majikan Pasutri dengan Golok dan Senapan
Negara-Negara Arab dan Barat Serentak Kecam Serangan Balasan Iran di Timur Tengah
Trump Klaim Fasilitas Militer Iran Hancur, Ratusan Warga Mengungsi ke Pakistan
Trump Klaim Serangan AS Hancurkan Angkatan Laut dan Udara Iran