Katanya saat ditemui di lokasi banjir yang masih menggenang. Sriyatun bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah. Untuk sementara, seluruh keluarganya mengungsi ke bagian dapur yang masih kering.
"Ini aktivitas keluar misalnya cari makan, mau beri makan lele, kendaraan di parkir yang aman di masjid, gratis di sana," tambahnya menjelaskan rutinitas darurat yang kini dijalani.
Pemandangan perahu-perahu kayu yang lalu-lalang di antara rumah-rumah kini menjadi pemandangan sehari-hari di desa itu. Sebuah gambaran nyata tentang ketangguhan sekaligus kerentanan hidup di daerah yang akrab dengan ancaman luapan sungai.
Artikel Terkait
Tokyo Lumpuh: Ratusan Ribu Komuter Terjebak Akibat Padamnya Jalur Kereta Utama
Naluri Ibu Selamatkan Putri dari Cengkeraman Buaya di Sungai Kuantan
Tepuk Tepung Tawar Warnai Peralihan Pucuk Pimpinan Polres Siak
Piazza Firenze Garut: Dari Sukaregang Menuju Sorotan Dunia Kulit