Sultan Cirebon Minta Dukungan Revitalisasi Keraton Kasepuhan ke Kemendikbud

- Selasa, 03 Maret 2026 | 19:00 WIB
Sultan Cirebon Minta Dukungan Revitalisasi Keraton Kasepuhan ke Kemendikbud

Kunjungan Sultan Cirebon ke Kemendikbud, Ada Harapan Besar untuk Keraton Berusia 6 Abad

Di kantor Kementerian Kebudayaan Jakarta, Menteri Fadli Zon baru saja menerima tamu penting. Tamu itu adalah Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon, Luqman Zulkaedin. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Sultan datang dengan satu misi jelas: menyampaikan kondisi sekaligus harapan untuk revitalisasi keratonnya yang legendaris.

Menurut Sultan, Keraton Kasepuhan ini usianya sudah sangat sepuh, sekitar 600 tahun. Didirikan oleh Sunan Gunung Jati, keraton ini adalah kelanjutan dari Kerajaan Pajajaran. Fakta sejarah itu sendiri sudah luar biasa. Bayangkan, kesultanan ini masih bertahan hingga hari ini, menjadikannya salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara.

“Usianya bahkan lebih tua dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta,” ujar Sultan, dengan nada yang terdengar bangga. Ini jelas sebuah kebanggaan nasional, bukti bahwa warisan Islam klasik di Indonesia masih berdiri kokoh.

Luas kompleks keraton ini sekitar 25 hektare, dikelilingi tembok bata peninggalan Pangeran Cakrabuana. Di dalamnya, ada Siti Inggil, gapura candi bentar, dan berbagai bangunan lain yang menyimpan sejarah panjang. Namun, di balik kemegahan itu, tersimpan keprihatinan.

Sultan dengan jujur mengakui bahwa kondisi fisik keraton saat ini memerlukan penanganan khusus. Ia berharap pemerintah bisa terus memperhatikannya. Soalnya, zaman sudah berubah. Keraton tak lagi punya kuasa politik seperti dulu. Karena itulah, dukungan dari pemerintah pusat sangat dibutuhkan agar warisan ini tak punah termakan usia.

Harapannya sederhana tapi berdampak luas. Revitalisasi bukan cuma untuk menyelamatkan tembok dan atap, tapi juga untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Pada akhirnya, ini akan memberi dampak ekonomi riil bagi masyarakat sekitar Cirebon.

“Kami berharap dengan adanya perbaikan dan revitalisasi beberapa bangunan, kunjungan wisatawan ke keraton Cirebon dapat meningkat,”

kata Sultan Sepuh XV dalam keterangan tertulis, Selasa (3/3/2026).

Menanggapi hal itu, Menbud Fadli Zon menyambut baik. Ia menegaskan bahwa keraton adalah ujung tombak peradaban budaya. Dukungan pemerintah pasti ada, tapi ia mengingatkan bahwa revitalisasi juga butuh kesiapan internal dari pihak keraton sendiri.

“Yang penting sekarang bagaimana memanfaatkan dokumen perencanaan yang sudah ada untuk mempercepat prosesnya,” tegas Fadli. Ia menekankan, upaya ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga kelestarian semua keraton di Indonesia.

Lebih dari sekadar proyek fisik, Fadli berharap revitalisasi Keraton Kasepuhan bisa memperkuat perannya sebagai pusat budaya. Tujuannya jelas: merawat nilai sejarah, tradisi, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Dengan penataan yang baik dan kolaborasi semua pihak, keraton ini diharapkan bisa menjadi ruang edukasi, destinasi wisata budaya yang hidup, dan simbol identitas masyarakat Cirebon yang tetap relevan di masa kini.

Dalam pertemuan itu, Fadli Zon tidak sendirian. Ia didampingi sejumlah pejabat eselon I dan staf khusus, seperti Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Ismunandar, serta para direktur terkait pelestarian sejarah dan masyarakat adat. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pembahasan ini ditangani secara serius.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar