Pada Kamis siang itu, cuaca di Senayan terik. Tapi Ahmad Muzani, Puan Maharani, dan Sultan Baktiar Najamudin justru memilih makan siang bersama di Kantin Demokrasi. Tempatnya biasa saja, ramai dengan para staf dan pegawai yang juga sedang menghabiskan waktu istirahat mereka.
Yang menarik, mereka naik ke kantin menggunakan buggy car. Sultan yang menyetir, dengan Puan di sampingnya. Sementara Muzani duduk di kursi belakang. Perjalanan singkat itu rupanya jadi pembuka dari sebuah obrolan yang lebih serius.
Begitu tiba, ketiganya langsung memilih sebuah meja dan menyantap hidangan. Menurut Sultan, menunya sederhana: makanan khas nusantara. Namun, percakapan yang mengiringi santapan itu tidak sesederhana menunya.
"Hanya makan siang dengan menu khas nusantara. Dan tentunya sedikit mendiskusikan situasi kebangsaan di tengah turbulensi geopolitik saat ini,"
kata Sultan membocorkan isi pembicaraan mereka.
Dia menegaskan, momen itu memang terlihat biasa. Tapi di sisi lain, ada pesan yang ingin disampaikan. Sebagai pimpinan lembaga legislatif, mereka mengapresiasi sikap masyarakat yang telah menjaga iklim demokrasi dan persatuan, meski dunia dilanda ketidakpastian.
"Melalui agenda makan siang di Kantin Demokrasi DPR ini, kami ingin menyampaikan pesan persatuan kepada semua elemen bangsa. Kami percaya masyarakat Indonesia juga sangat kompak dan ingin bangsa kita selalu dalam suasana yang damai,"
tutur mantan Wakil Gubernur Bengkulu itu lagi.
Jadi, begitulah kira-kira. Di balik kesan santai makan siang di kantin, terselip pembahasan tentang bangsa dan keadaan dunia yang sedang tidak menentu. Sebuah percakapan ringan, tapi dengan nada yang cukup dalam.
Artikel Terkait
Napi Koruptor Rp233 Miliar Terlihat Ngopi di Kafe, Ditjenpas Periksa Petugas Rutan
KPK Periksa Mantan Pejabat Kemenag Terkait Dugaan Suap Kuota Haji Tambahan
Longsor Timbun Jalur Alternatif ke Dieng, Akses Wisata Terputus
Ratusan Warga Badui Antusias Ikuti Pemeriksaan Kesehatan dan Skrining TB Gratis