Dari Daster ke Imperium: Kisah Arif Muhammad dan Kerajaan Mak Beti

- Minggu, 18 Januari 2026 | 22:25 WIB
Dari Daster ke Imperium: Kisah Arif Muhammad dan Kerajaan Mak Beti

Lampu studio akhirnya padam. Di balik gemerlapnya, Arif Muhammad kembali jadi dirinya sendiri. Daster Mak Beti ia lepas, jilbab Beti ia lipat rapi. Yang tersisa hanyalah seorang CEO yang memimpin imperium bisnisnya sebuah kerajaan yang dibangun dari keringat dan kecerdasan yang tak main-main.

Di sudut studio yang sederhana, seorang pria kurus berganti pakaian dengan gesit. Sekejap, ia sudah mengenakan daster dan jilbab instan. Ekspresinya berubah masam. Dan jadilah Mak Beti, sosok ibu-ibu Medan yang bicaranya pedas tapi hatinya tak tega. Tak lama berselang, kostum itu ia tanggalkan lagi. Ia berganti seragam sekolah yang agak kekecilan, lalu berubah total menjadi Beti, si anak yang bandel.

Pria itu adalah Arif Muhammad. Di dunia konten Indonesia, dia bukan cuma kreator biasa. Dia adalah fenomena. Tanpa gelar teater dari kampus ternama, mantan TKI di Abu Dhabi ini sukses membangun bisnis yang nilainya konon setara dengan selebriti TV ternama. Tapi, di balik tawa yang ia ciptakan, ada mesin manajemen yang berjalan rapi, teliti, dan sangat patuh pada aturan.

Dimulai dari Rindu, Dijaga dengan Konsistensi

Cerita "Keluarga Beti" ini berawal bukan di studio mewah. Ia lahir dari kamar kos sempit di tanah rantau, sekitar 2013 silam. Arif, yang kala itu bekerja di sebuah hotel di Timur Tengah, dilanda jenuh dan rindu kampung halaman di Binjai, Sumatera Utara.

Dengan modal kamera ponsel, ia mulai merekam ulang obrolan-obrolan khas tetangga: soal utang-piutang di warung, gosip di tukang sayur, sampai omelan ibu ke anak. Karakter Mak Beti pun muncul sebagai jangkar utama.

Yang bikin orang terpana, bukan cuma aktingnya yang natural. Tapi kemampuannya memerankan belasan karakter sekaligus dalam satu adegan. Ada Sutrisno suaminya yang pemalas, Martha si teman sekolah yang dramatis, sampai Wak Mendai dan Zainab sebagai bumbu konflik di "Semesta Beti".

Secara teknis, Arif menghindari efek visual CGI yang rumit. Ia memilih cara lama: teknik split screen dan masking tradisional. Di depan tripod yang sama, ia berakting melawan dirinya sendiri. Tantangannya ada pada ingatan dan konsistensi. Ia harus hafal dialog semua karakternya, menjaga posisi tubuh agar pas saat disunting, dan menjaga emosi meski berganti kostum belasan kali sehari. Ini kerja keras manual, yang dibungkus dengan kecerdikan digital.

Anti Drama: Bukan Sekadar Nama

Sementara banyak kreator sibuk menciptakan "settingan" atau ribut di publik demi traffic, Arif mengambil jalan lain. Melalui Anti Drama Project, ia mengelola karirnya dengan profesionalisme yang nyaris dingin. Nama itu adalah manifesto bisnisnya. Dia paham, di ekonomi perhatian ini, reputasi adalah aset yang jauh lebih berharga daripada jumlah follower.

Manajemennya menerapkan penyaringan ketat untuk setiap kerja sama. Mereka menjauhi promosi judi terselubung, produk kecantikan abal-abal, atau konten yang menyerempet masalah moral. Strategi ini ternyata jitu. Merek-merek besar, nasional hingga internasional, merasa lebih aman menaruh iklan mereka pada sosok Mak Beti yang lucu dan bersih dari skandal.

Di sinilah bedanya Arif dengan banyak kreator lain. Kalau banyak yang mengandalkan sensasi, Arif mengandalkan sistem. Ia punya tim produksi in-house yang solid, dari penulis naskah yang paham dialek lokal sampai editor yang mahar menjahit belasan karakternya jadi satu adegan yang mulus.


Halaman:

Komentar