"Warga juga sudah ada yang mulai gatal-gatal," imbuhnya lagi.
Cerita serupa datang dari Sapiah, seorang nenek berusia 62 tahun. Wilayah tempat tinggalnya masih tergenang akibat luapan Sungai Cilemer. Bagi Sapiah dan tetangga-tetangganya, selain makanan, air bersih adalah kebutuhan paling mendesak saat ini.
"Kami enggak punya air bersih, airnya di sumur kotor jadi keruh," keluhnya.
Ia punya harapan sederhana namun mendesak: agar ada langkah konkret dari pihak berwenang untuk meringankan beban mereka. Bantuan air bersih, menurutnya, adalah hal yang paling dibutuhkan.
"Mudah-mudahan ada yang nyumbang, terutama air bersih," harap Sapiah.
Nampaknya, setelah air surut, perjuangan warga di dua kecamatan ini belum benar-benar usai. Mereka masih harus berhadapan dengan dampak lanjutan yang tak kalah pelik.
Artikel Terkait
Indonesia Siapkan Prabowo Jadi Mediator Iran-AS, Tunggu Izin Kedua Pihak
Cap Go Meh Bogor: Pawai Ke-24 Jadi Simbol Toleransi dan Penggerak Ekonomi
Karyawan Toko Rempah Tersangka Pembunuhan Sadis Majikan di Cisarua
Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Luwu Timur, Belum Ada Laporan Dampak