Suasana malam di Minneapolis kembali memanas. Rabu (14/1) kemarin, seorang warga Venezuela menjadi sasaran tembakan petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE). Insiden ini bermula dari perkelahian antara petugas dan pria tersebut.
Kepala Polisi Minneapolis, Brian O'Hara, mengonfirmasi kejadian itu.
"Selama perkelahian, agen federal melepaskan tembakan, mengenai seorang pria dewasa," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (15/1/2026).
Korban mengalami luka tembak di kaki. Namun begitu, ini bukan insiden pertama dalam waktu dekat. Baru sepekan sebelumnya, tepatnya 7 Januari, agen ICE juga menembak mati Renee Nicole Good (37). Kematiannya memicu gelombang protes yang belum reda terhadap kehadiran agen federal di kota itu.
Nah, penembakan terbaru ini langsung memicu reaksi warga. Kerumunan massa pun terbentuk di lokasi kejadian. Suasana makin tegang ketika beberapa demonstran mulai melemparkan kembang api ke arah petugas yang berjaga.
Di sisi lain, pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) punya cerita berbeda. Mereka mengunggah pernyataan di X, menyebut pria itu sebagai "imigran ilegal dari Venezuela" yang ditembak setelah melakukan penghentian lalu lintas dan melawan penangkapan.
Narasi mereka lebih detail. DHS menyebut saat perkelahian berlangsung di tanah, dua orang lain muncul dari apartemen terdekat. Keduanya ikut menyerang petugas dengan menggunakan sekop salju dan gagang sapu.
Gelombang kecaman pun mengalir deras. Para pejabat terpilih di Minneapolis dan negara bagian Minnesota tak tinggal diam. Mereka mengecam keras tindakan agen DHS dan ICE yang dianggap sudah kelewat batas.
Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, terlihat frustrasi saat berbicara dengan wartawan.
"Ini tidak berkelanjutan," tegasnya. "Kita memiliki agen ICE di seluruh kota dan negara bagian kita yang, bersama dengan Patroli Perbatasan, menciptakan kekacauan. Ini bukan jalan yang seharusnya kita tempuh saat ini di Amerika."
Gubernur Minnesota, Tim Walz, juga bersuara. Dalam sebuah video di media sosial Rabu pagi, dia menyoroti kekacauan dan trauma yang ditimbulkan oleh pemerintah federal terhadap warga Minneapolis. Dia bahkan menyebut praktik interogasi dari pintu ke pintu oleh agen ICE yang "bersenjata, bertopeng, dan kurang terlatih".
Dua insiden beruntun dalam sepekan ini jelas meninggalkan bekas. Kota itu seperti berada di ujung tanduk, mempertanyakan metode penegakan hukum yang justru memicu kekerasan baru.
Artikel Terkait
Rusia Siap Pasok Minyak Mentah ke Indonesia Usai Pertemuan Prabowo-Putin
Verstappen Temukan Api Balap di Nürburgring Usai Keluhkan F1 yang Kurang Kompetitif
Israel dan Lebanon Sepakat Gencatan Senjata 10 Hari Atas Mediasi AS
Cedera Achilles Hancurkan Impian Hugo Ekitike Tampil di Piala Dunia 2026