"Mobnas tadi ya, beberapa. Tapi itu kan beberapa aplikasi rare earth juga untuk Mobnas. Jadi tadi Pak CTO, Pak Danantara diundang juga untuk membuat link bagaimana hilirisasi rare earth itu bisa segera diwujudkan kerja sama teknologi dengan luar negeri kalau memang kita belum menguasai," ucap Brian.
Namun begitu, dia menegaskan bahwa target utama tetaplah kemandirian. Indonesia tidak mau bergantung selamanya.
"Tapi tentu kita ingin riset-riset di perdalaman sesegera mungkin sehingga kita bisa memiliki industri logam tanah jarang ini, hilirisasinya," ujarnya.
Kenapa ini penting? Salah satu alasannya adalah neodymium-praseodymium (NdPr), komponen kunci dalam logam tanah jarang. Material ini adalah bahan baku magnet permanen yang sangat vital untuk motor kendaraan listrik.
"Salah satu aplikasinya. Karena di sana ada, misalnya, NDPR yaitu aplikasi untuk permanen magnet yang sangat dibutuhkan untuk kendaraan listrik," jelas Brian menutup pembicaraan.
Malam itu, arahan dari Istana jelas: kejar ketertinggalan, percepat penguasaan. Semua untuk nilai tambah yang lebih besar bagi negeri.
Artikel Terkait
Iran Sambut Positif Niat Prabowo Jadi Mediator di Timur Tengah
Kematian Khamenei Picu Perebutan Suksesi di Iran, Majelis Pakar Berhadapan dengan Ancaman dan Intrik
Iran Hadapi Vakum Kekuasaan Pasca-Kematian Khamenei, Majelis Pakar Cari Penerus
Persis Solo Raih Kemenangan Dramatis 2-1 atas Persik Meski Bermain 10 Pemain