Rasanya lega sekali. Itulah yang dirasakan Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta, saat menyaksikan tiang-tiang monorel di Rasuna Said akhirnya dipotong. Setelah hampir 22 tahun mangkrak, besi tua itu perlahan hilang dari pandangan. "Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono," ujarnya, Rabu (14/1/2026), di lokasi peninjauan.
Gagasan monorel itu sendiri, menurutnya, muncul di awal milenium. Saat itu, Jakarta benar-benar tercekik kemacetan. Sutiyoso lantas mengumpulkan para ahli transportasi dari berbagai kampus. Tujuannya satu: merancang solusi jangka panjang untuk ibu kota.
"Hasil kajian itu menyimpulkan Jakarta perlu empat moda transportasi utama, yaitu MRT bawah tanah, monorel di atas, busway, dan waterway, yang terintegrasi satu sama lain," cerita pria yang akrab disapa Bang Yos itu.
Dia pun blusukan ke sejumlah negara, dari Kolombia sampai Thailand, untuk melihat langsung. Kesimpulannya, monorel dinilai cocok sebagai angkutan massal untuk kota sebesar Jakarta.
Namun begitu, realita di lapangan tak semulus rencana. Kondisi sosial ekonomi pasca kerusuhan Mei 1998 masih labil. Kepercayaan investor? Jauh dari pulih. Akhirnya, dia memilih untuk memulai dari yang paling mungkin dikerjakan tanpa perlu modal besar: busway.
"Kalau semua menunggu kondisi sempurna, sampai hari raya kuda juga enggak jadi. Maka yang bisa langsung dikerjakan ya busway," tuturnya dengan nada khas.
Meski begitu, proyek monorel tidak benar-benar mati. Pembangunannya dijalankan paralel. Bahkan di tahun 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri sempat mencanangkannya dengan rencana investasi dari China. Sayangnya, masa jabatan Sutiyoso berakhir tahun 2007. Dan proyek itu, ya, mandek di situ.
Artikel Terkait
Menlu Sugiono Pantau Per Jam Nasib Dua WNI yang Diculik di Gabon
Kakorlantas Beri Apresiasi Khusus, Tawari Komandan PJR Pilih Tugas Sesuka Hati
Airlangga Bertandang ke KPK, Bahas Negosiasi Tarif AS hingga Pencegahan Korupsi
Wakil Wali Kota Tangsel Buka Suara Soal Penghentian Sampah ke Bogor