Nah, soal potensi itu, Yandri menilai bakat generasi muda desa perlu wadah yang tepat. Turnamen Esports Desa Nasional ini dianggap sebagai salah satu jawabannya. Acara ini sendiri merupakan puncak dari proses panjang yang melibatkan ribuan peserta.
Sebelumnya, Dirjen Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, sudah memberi penjelasan. Tujuan acara ini bukan cuma mencari juara. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk menjaring bibit-bibit baru ekonomi kreatif dari desa.
Para pemenang, selain mendapat Piala Bupati Boyolali, juga akan menerima uang pembinaan sebesar Rp10 juta. Namun, hadiahnya tak berhenti di situ.
Rencananya, usai lomba, akan ada program pengembangan ekonomi kreatif yang lebih serius. Misalnya, pembangunan arena e-sport khusus. Para talenta yang terpantau nanti bisa dikembangkan menjadi berbagai profesi pendukung: mulai dari soundcaster, komentator, live streamer, sampai pelatih dan wasit.
Turnamen kali ini memang cukup besar skalanya. Diikuti oleh sekitar 3.000 peserta, mereka bertanding dalam dua kategori populer: Free Fire dan Mobile Legends. Semua dilakukan dengan satu harapan: menemukan atlet e-sport potensial dari tingkat desa, dari akar rumput yang selama ini mungkin belum tersentuh.
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang 27 Pangkalan AS dan Sasaran Israel di Tengah Eskalasi
Presiden Iran Sumpah Balas Dendam Usai Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
Ramadan Ubah Jam Kerja di Belasan Negara, Termasuk yang Non-Muslim Mayoritas
Iran Serang Dubai, Bandara Tersibuk Dunia Alami Kerusakan