Nah, soal potensi itu, Yandri menilai bakat generasi muda desa perlu wadah yang tepat. Turnamen Esports Desa Nasional ini dianggap sebagai salah satu jawabannya. Acara ini sendiri merupakan puncak dari proses panjang yang melibatkan ribuan peserta.
Sebelumnya, Dirjen Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, sudah memberi penjelasan. Tujuan acara ini bukan cuma mencari juara. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk menjaring bibit-bibit baru ekonomi kreatif dari desa.
Para pemenang, selain mendapat Piala Bupati Boyolali, juga akan menerima uang pembinaan sebesar Rp10 juta. Namun, hadiahnya tak berhenti di situ.
Rencananya, usai lomba, akan ada program pengembangan ekonomi kreatif yang lebih serius. Misalnya, pembangunan arena e-sport khusus. Para talenta yang terpantau nanti bisa dikembangkan menjadi berbagai profesi pendukung: mulai dari soundcaster, komentator, live streamer, sampai pelatih dan wasit.
Turnamen kali ini memang cukup besar skalanya. Diikuti oleh sekitar 3.000 peserta, mereka bertanding dalam dua kategori populer: Free Fire dan Mobile Legends. Semua dilakukan dengan satu harapan: menemukan atlet e-sport potensial dari tingkat desa, dari akar rumput yang selama ini mungkin belum tersentuh.
Artikel Terkait
Peringatan di Balik Layar: Mantan Jaksa KPK Sudah Khawatirkan Skema Chromebook Rp 2,1 Triliun
Genangan di Jakarta Surut, BPBD Apresiasi Kerja Sama Penanganan
Hakim Desak Penangkapan Buronan Kunci di Kasus Korupsi Chromebook Rp 2,1 Triliun
ART Buru Dua Pria Pembunuh ART di Serang Usai Penusukan Maut