Indonesia Puncaki Peringkat Kesejahteraan Global: Modal Sosial atau Alarm bagi Kebijakan?

- Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40 WIB
Indonesia Puncaki Peringkat Kesejahteraan Global: Modal Sosial atau Alarm bagi Kebijakan?

Ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan adaptif manusia. Perasaan sejahtera itu tetaplah nyata dan sah. Tantangannya justru terletak pada bagaimana negara menangkap adaptasi warga ini. Jangan sampai kemampuan bertahan itu malah dijadikan alasan untuk tidak memperkuat dukungan struktural. Masyarakat mungkin bisa merasa "baik-baik saja" di tengah kesulitan, tapi tugas kebijakan publik adalah memastikan bahwa di masa depan, kesejahteraan tidak lagi bergantung pada ketahanan pribadi semata.

Di sisi lain, kita harus jujur melihat realita yang ada. Ketimpangan sosial di Indonesia masih nyata. Tapi data yang sama juga menunjukkan ruang perbaikan yang sangat besar. Ada puluhan juta orang yang berada di ambang batas, kelompok yang sangat responsif jika kebijakan tepat sasaran menyentuh mereka. Koefisien Gini kita yang masih di angka 0,38 menunjukkan ketimpangan yang masih bisa dikoreksi. Dominasi sektor informal juga membuka peluang luas untuk reformasi jaminan sosial yang lebih inklusif.

Bahkan dalam sektor kesehatan, tingginya pengeluaran langsung dari kantong pribadi masyarakat sebenarnya menandakan adanya kemauan untuk berinvestasi dalam kesehatan. Ini modal penting. Dengan memperkuat sistem layanan publik yang adil dan merata, komitmen masyarakat ini bisa diubah menjadi peningkatan kesejahteraan yang lebih lestari.

Lalu, Ke Mana Arah Kebijakan?

Skor flourishing yang tinggi sama sekali bukan alasan untuk berleha-leha. Justru ini adalah kesempatan strategis. Ia memberi legitimasi sosial bagi pemerintah untuk melangkah lebih jauh: memperbaiki akses kesehatan, memperluas perlindungan sosial, mengecilkan kesenjangan antarwilayah, dan memastikan bahwa kesejahteraan tidak lagi bergantung pada daya tahan individu semata. Sejujurnya, rakyat Indonesia tidak butuh pujian global untuk bertahan hidup mereka sudah membuktikannya. Yang lebih dibutuhkan sekarang adalah keberanian politik untuk menopang daya lenting sosial ini dengan sistem yang adil dan benar-benar berpihak.

Pada akhirnya, hasil Global Flourishing Study ini tetaplah kabar baik. Ia menunjukkan bahwa Indonesia punya kekuatan kemanusiaan yang besar: ada makna, ada relasi, ada solidaritas, dan ada ketahanan psikososial. Tantangan kita bukan mempertanyakan kebahagiaan itu, tapi menghormatinya dengan kebijakan yang layak.

Kesejahteraan sejati bukan terjadi ketika rakyat terus-menerus beradaptasi dalam kesulitan. Ia baru terwujud ketika negara memastikan bahwa adaptasi bukan lagi satu-satunya jalan untuk hidup bermartabat. Kalau dibaca dengan bijak, skor tinggi ini bukan penutup diskusi. Ia justru sebuah undangan terbuka untuk bekerja lebih serius, lebih adil, dan lebih berani demi kesejahteraan yang sungguh-sungguh berkelanjutan.

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Pendiri Health Collaborative Center (HCC), Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC), dan Inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (Kaukus Keswa)

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar