Indonesia kembali disebut-sebut sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan hidup tertinggi di dunia. Kabar ini muncul dari sebuah studi global kolaboratif yang melibatkan Harvard, Baylor University, dan Gallup. Yang menarik, temuan ini muncul justru di tengah situasi dunia yang serba tak pasti: krisis ekonomi, konflik geopolitik, dan tekanan mental yang meluas. Tapi, masyarakat Indonesia ternyata masih melaporkan rasa hidup bermakna, kepuasan eksistensial, dan keterhubungan sosial yang cukup tinggi.
Selama ini, pembicaraan soal kesehatan global selalu didominasi angka-angka defisit tingkat kematian, beban penyakit, atau disabilitas. Hasil studi ini, jujur saja, memberikan angin segar. Namun begitu, setiap temuan ilmiah yang bermakna justru makin berharga kalau kita baca dengan kritis dan penuh konteks. Tujuannya bukan untuk menafikannya, tapi justru untuk memanfaatkannya sebagai pijakan kebijakan yang lebih berpihak dan berkelanjutan.
Menurut kajian The Lancet, konsep 'flourishing' atau kesejahteraan ini bukan cuma soal kondisi psikis individu semata. Ia adalah hasil dari sebuah masyarakat yang secara aktif menciptakan kondisi hidup sehat, aman, dan bermartabat. Singkatnya, ini adalah buah dari sistem sosial yang adil, kebijakan yang melindungi, dan lingkungan yang memungkinkan manusia berkembang bukan sekadar bertahan dari ketidakamanan.
Jeff Levin, dalam tulisannya, bahkan memperluas pemahaman ini. Ia menempatkan flourishing sebagai tujuan pencegahan tertinggi dalam dunia kedokteran. Bukan cuma mencegah penyakit, tapi mencegah kondisi hidup yang memaksa manusia terus-menerus hidup dalam tekanan.
Dua kerangka pikir ini memberi pesan yang optimis sekaligus menantang. Ketika sebuah masyarakat menunjukkan tanda-tanda kesejahteraan, itu adalah modal sosial yang luar biasa. Dan modal itu seharusnya mendorong negara untuk bekerja lebih berani, bukan malah berpuas diri.
Membaca Angka Tinggi dengan Hati-hati
Studi GFS mengukur kesejahteraan lewat beberapa domain kunci: kepuasan hidup, makna dan tujuan, hubungan sosial, karakter dan spiritualitas, kesehatan, serta keamanan materi. Indonesia mencatat skor tinggi terutama di tiga hal terakhir: makna hidup, relasi sosial, dan spiritualitas.
Dalam konteks budaya kita, temuan ini sebenarnya tak terlalu mengejutkan. Jaringan sosial yang erat, peran keluarga yang kuat, plus nilai-nilai solidaritas dan keagamaan yang hidup, sudah lama jadi fondasi ketahanan masyarakat. Survei ini, pada dasarnya, cuma mengonfirmasi kekuatan yang memang sudah kita miliki. Justru karena itulah, skor tinggi ini harus dibaca sebagai modal awal sebuah energi sosial yang bisa dipakai untuk mendorong transformasi struktural, bukan sebagai tanda bahwa pekerjaan kita sudah selesai.
Ada konsep menarik dalam literatur psikososial global yang disebut 'response shift'. Intinya, ini adalah penyesuaian standar internal seseorang tentang apa yang dianggap "baik" atau "cukup" setelah lama hidup dalam tekanan. Orang tetap bisa merasa hidupnya bermakna dan berfungsi, meski secara objektif hidup dalam keterbatasan.
Artikel Terkait
Karantina Jambi Perketat Pengawasan Daging Ayam untuk Jamin Keamanan Pangan
BNPB Siapkan InaRISK dan Siaga 24 Jam Antisipasi Bencana Saat Mudik Lebaran 2026
Jenazah Petani Ditemukan di Hutan Pasuruan, Diduga Tersesat Saat Cari Kerja
China Imbau Warganya Segera Tinggalkan Iran Imbas Eskalasi Ancaman AS