“Serangan udara akan menjadi salah satu dari sekian banyak opsi yang ada,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Namun begitu, dia juga memberi catatan. Ternyata, saluran diplomatik dengan Iran belum sepenuhnya tertutup. Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dikabarkan masih mendapat respons yang berbeda secara tertutup.
“Iran mengambil nada yang jauh berbeda dalam percakapan pribadi, dibanding pernyataan publik mereka,” tambah Leavitt.
Sebelumnya, Trump sudah lebih dulu melontarkan peringatan keras. Dia meminta Iran menghentikan tindakan kekerasan terhadap para demonstran. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, tak kalah keras membalas. Dia menyebut militer AS dan Israel akan jadi “sasaran yang sah” jika ancaman serangan dari Amerika benar-benar diwujudkan.
Suasana memang sedang memanas. Tarif 25 persen itu bukan cuma soal perdagangan, tapi seperti senjata baru di tengah ketegangan yang kian mencekam.
Artikel Terkait
Menteri Tito Ajari Bupati, Sorotan Baru Soal Lambatnya Pendataan Korban Bencana
SBY Tegaskan: Matahari Partai Demokrat Hanya Satu, AHY
KPK Geledah Kantor Pajak, Lanjutkan Penyidikan Kasus Suap
Pelaku Bunuh Diri Gagal Usai Bunuh Terapis di Bekasi