Iran Berduka Tiga Hari, 500 Jiwa Melayang dalam Gelombang Demonstrasi

- Senin, 12 Januari 2026 | 07:45 WIB
Iran Berduka Tiga Hari, 500 Jiwa Melayang dalam Gelombang Demonstrasi

Kerusuhan di Iran kian meluas. Korban jiwa terus berjatuhan, dan angka terbaru sungguh memilukan: 500 orang dilaporkan tewas. Menanggapi situasi ini, pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Masa berkabung itu, kata mereka, untuk menghormati warga yang gugur.

Pengumuman resmi pemerintah disampaikan pada Minggu lalu. Mereka menyebut para korban sebagai 'martir gerakan perlawanan nasional Iran' dalam perlawanannya melawan Amerika dan rezim zionis. Narasi ini terus digaungkan dengan keras.

Media pemerintah, IRIB, bahkan menyamakan para pengunjuk rasa dengan kelompok teroris. "Rakyat Iran telah mengalami langsung teroris kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan seperti ISIS," begitu pernyataan mereka yang dikutip CNN International.

Di sisi lain, laporan dari kelompok pemantau hak asasi manusia, HRANA, yang berbasis di AS, memberikan gambaran lain yang suram. Angka-angka mereka menunjukkan skala kekacauan: lebih dari 100 anggota pasukan keamanan tewas. Sementara itu, sekitar 500 demonstran meninggal dunia dan lebih dari 10.000 orang telah ditangkap hanya dalam kurun dua pekan terakhir.

Pemerintah tak hanya berhenti pada pernyataan. Mereka mendorong rakyatnya untuk turun ke jalan bukan untuk memprotes, melainkan untuk mendukung. Presiden Masoud Pezeshkian mendesak masyarakat ikut serta dalam "pawai perlawanan nasional" pada hari Senin. Tujuannya, mengecam kekerasan yang mereka tuduh didalangi Amerika dan Israel.

Menurut siaran televisi pemerintah, pawai ini dimaksudkan untuk mengutuk aksi yang dilakukan oleh apa yang mereka sebut "penjahat teroris perkotaan".

Semua ini berawal dari sesuatu yang tampak sederhana: krisis mata uang di akhir Desember. Tapi api kemarahan itu dengan cepat membesar. Demonstrasi yang awalnya soal ekonomi berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Kini, suara-suara yang bergemuruh di jalanan menuntut perubahan besar-besaran terhadap pemerintahan yang dianggap otoriter.

Respon dari penguasa bisa ditebak: keras. Ancaman penindakan tak henti disuarakan oleh para pejabat. Dan ancaman itu nyata puluhan demonstran telah tewas berdasarkan laporan para pengamat HAM.

Di tengah semua ini, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersikukuh. Posisinya jelas dan tak berkompromi. Pemerintah, tegasnya, "tidak akan mundur" sedikitpun menghadapi gelombang protes besar-besaran ini. Situasi masih berjalan, dan ketegangan terasa makin mengental di udara.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar