Kerusuhan di Iran kian meluas. Korban jiwa terus berjatuhan, dan angka terbaru sungguh memilukan: 500 orang dilaporkan tewas. Menanggapi situasi ini, pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Masa berkabung itu, kata mereka, untuk menghormati warga yang gugur.
Pengumuman resmi pemerintah disampaikan pada Minggu lalu. Mereka menyebut para korban sebagai 'martir gerakan perlawanan nasional Iran' dalam perlawanannya melawan Amerika dan rezim zionis. Narasi ini terus digaungkan dengan keras.
Media pemerintah, IRIB, bahkan menyamakan para pengunjuk rasa dengan kelompok teroris. "Rakyat Iran telah mengalami langsung teroris kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan seperti ISIS," begitu pernyataan mereka yang dikutip CNN International.
Di sisi lain, laporan dari kelompok pemantau hak asasi manusia, HRANA, yang berbasis di AS, memberikan gambaran lain yang suram. Angka-angka mereka menunjukkan skala kekacauan: lebih dari 100 anggota pasukan keamanan tewas. Sementara itu, sekitar 500 demonstran meninggal dunia dan lebih dari 10.000 orang telah ditangkap hanya dalam kurun dua pekan terakhir.
Pemerintah tak hanya berhenti pada pernyataan. Mereka mendorong rakyatnya untuk turun ke jalan bukan untuk memprotes, melainkan untuk mendukung. Presiden Masoud Pezeshkian mendesak masyarakat ikut serta dalam "pawai perlawanan nasional" pada hari Senin. Tujuannya, mengecam kekerasan yang mereka tuduh didalangi Amerika dan Israel.
Artikel Terkait
Hujan Deras Pagi Ini, Jakarta Terjebak Lautan Logam yang Diam
Ramadan 2026: Potensi Dua Hari Suci Kembali Menghiasi Indonesia
Hujan Deras Lumpuhkan Transjakarta, Rute Ini Paling Parah
Waspada Banjir, Status Siaga di Dua Titik Ibu Kota Naik ke Level 3