Menurut siaran televisi pemerintah, pawai ini dimaksudkan untuk mengutuk aksi yang dilakukan oleh apa yang mereka sebut "penjahat teroris perkotaan".
Semua ini berawal dari sesuatu yang tampak sederhana: krisis mata uang di akhir Desember. Tapi api kemarahan itu dengan cepat membesar. Demonstrasi yang awalnya soal ekonomi berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Kini, suara-suara yang bergemuruh di jalanan menuntut perubahan besar-besaran terhadap pemerintahan yang dianggap otoriter.
Respon dari penguasa bisa ditebak: keras. Ancaman penindakan tak henti disuarakan oleh para pejabat. Dan ancaman itu nyata puluhan demonstran telah tewas berdasarkan laporan para pengamat HAM.
Di tengah semua ini, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersikukuh. Posisinya jelas dan tak berkompromi. Pemerintah, tegasnya, "tidak akan mundur" sedikitpun menghadapi gelombang protes besar-besaran ini. Situasi masih berjalan, dan ketegangan terasa makin mengental di udara.
Artikel Terkait
Netanyahu Puji Keberanian Demonstran Iran, Harapkan Rakyat Bebas dari Belenggu Tirani
Sunter dan Kelapa Gading Tergenang, Arus Lalu Lintas Lumpuh Total
Andre Rosiade Desak Bareskrim Tuntaskan Tambang Emas Ilegal di Sumbar
Hujan Deras Landa Serang, Ratusan Rumah Terendam dan Empat Bangunan Roboh