Menurut siaran televisi pemerintah, pawai ini dimaksudkan untuk mengutuk aksi yang dilakukan oleh apa yang mereka sebut "penjahat teroris perkotaan".
Semua ini berawal dari sesuatu yang tampak sederhana: krisis mata uang di akhir Desember. Tapi api kemarahan itu dengan cepat membesar. Demonstrasi yang awalnya soal ekonomi berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Kini, suara-suara yang bergemuruh di jalanan menuntut perubahan besar-besaran terhadap pemerintahan yang dianggap otoriter.
Respon dari penguasa bisa ditebak: keras. Ancaman penindakan tak henti disuarakan oleh para pejabat. Dan ancaman itu nyata puluhan demonstran telah tewas berdasarkan laporan para pengamat HAM.
Di tengah semua ini, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersikukuh. Posisinya jelas dan tak berkompromi. Pemerintah, tegasnya, "tidak akan mundur" sedikitpun menghadapi gelombang protes besar-besaran ini. Situasi masih berjalan, dan ketegangan terasa makin mengental di udara.
Artikel Terkait
Anggota Komisi III Kritik Tuntutan Mati untuk ABK dalam Kasus Sabu 2 Ton
Warga Permata Hijau Laporkan Proyek Padel ke Polisi Gangguan Malam Hari
Pemkot Solo Buka Posko Aduan THR untuk Cegah Sengketa Pekerja
NasDem Ziarah ke Makam KH Hasyim Asyari dan Gus Dur di Tebuireng