Namun begitu, Iran sudah lebih dulu mengirimkan peringatan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, sebelumnya telah memperingatkan Washington agar tidak membuat "kesalahan perhitungan".
Ucapannya blak-blakan dan penuh keyakinan, mencerminkan suasana genting yang sedang berlangsung.
Semua ini berawal dari aksi protes akhir Desember lalu, yang awalnya dipicu oleh krisis mata uang. Tapi gelombang ketidakpuasan itu dengan cepat meluas dan berubah wujud. Kini, suara-suara yang terdengar bukan hanya soal ekonomi, melainkan tuntutan akan perubahan besar terhadap pemerintahan yang dianggap otoriter. Respons pemerintah pun keras ancaman penindasan dan laporan tentang puluhan demonstran tewas menjadi hal yang biasa.
Di sisi lain, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersikukuh dengan pendiriannya. Pemerintah, tegasnya, "tidak akan mundur" menghadapi protes skala besar ini. Jadi, jalan buntu. Di dalam negeri, tekanan dari rakyat tak kunjung reda. Dari luar, ancaman intervensi asing menggantung. Situasinya benar-benar seperti bubuk mesiu yang tinggal menunggu percikan.
Artikel Terkait
Hujan Deras Pagi Ini, Jakarta Terjebak Lautan Logam yang Diam
Ramadan 2026: Potensi Dua Hari Suci Kembali Menghiasi Indonesia
Hujan Deras Lumpuhkan Transjakarta, Rute Ini Paling Parah
Waspada Banjir, Status Siaga di Dua Titik Ibu Kota Naik ke Level 3