Dalam sebuah wawancara dengan penyiar publik Israel KAN, Feldstein mengurai pertemuannya dengan Braverman. Katanya, tak lama setelah kebocoran terjadi, Braverman meminta bertemu.
Dalam pertemuan itu, Braverman konon memberi tahu bahwa militer telah membuka penyelidikan. Tapi yang lebih mengejutkan, Feldstein mengklaim Braverman menyatakan bisa "menghentikan" penyelidikan tersebut.
Feldstein juga tak menyimpan rapat-rapat. Dalam wawancara yang sama, dia menyebut Netanyahu tahu soal kebocoran dokumen itu. Bahkan, sang perdana menteri didukung pemanfaatannya untuk menggalang dukungan publik terhadap perang.
Di sisi lain, suasana di hari Minggu itu makin tegang. Media Israel melaporkan polisi tak hanya menahan, tetapi juga menggeledah kediaman Braverman. Feldstein sendiri dijadwalkan akan memberikan keterangan lebih lanjut kepada polisi soal dugaan keterlibatan Braverman.
Namun begitu, catatan tentang Feldstein juga tak bersih. Namanya tercatat sebagai tersangka dalam skandal lain yang disebut "Qatargate". Dia dan beberapa rekan dekat Netanyahu lainnya diduga direkrut Qatar untuk memoles citra monarki Teluk tersebut di mata Israel.
Jadi, kasus ini seperti bola salju. Dimulai dari kebocoran dokumen, penangkapan sumber, dan kini merembet ke orang terdekat perdana menteri. Semuanya berputar di tengah narasi perang yang belum juga usai.
Artikel Terkait
Prabowo dan Putin Bahas Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia di Kremlin
Mantan Hakim Konstitusi Anwar Usman Pingsan di Acara Purnabaktinya
Konektivitas Jalan Nasional dan Tol Terjaga Saat Mudik 2026, Kesenjangan di Kawasan Timur Jadi Tantangan
Kecelakaan Maut di Jalan Bomang, Satu Pengendara Motor Tewas